Yusril Berkukuh Ahok Lahir sebagai WNA dan Tak Bisa Nyapres

Yusril Berkukuh Ahok Lahir sebagai WNA dan Tak Bisa Nyapres

Yusril menegaskan Ahok tetap tidak bisa menjadi capres karena terlahir sebagai warga negara Tiongkok. (Foto: CNN Indonesia/Artho Viando)

 

 

Jakarta, CNN Indonesia — Pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra menanggpi surat terbuka yang dibuat oleh Harry Basuki Tjahaja Purnama, adik bungsu Basuki Tjahaja Purnamaalias Ahok.

Surat tersebut dibuat Harry sebagai tanggapan atas pernyataan Yusril di Medan, Sumatera Utara, saat menghadiri Kongres Umat Islam pada 30 Maret 2018.

Dalam acara itu Yusril menyebut Ahok terlahir sebagai warga negara asing karena ayahnya, Tjoeng Kiem Nam, memilih menjadi warga negara Tiongkok pada penentuan warga negara tahun 1962.

Karena itu Ahok yang lahir pada 1966 secara otomatis mengikuti kewarganegaraan bapaknya dan tidak bisa mencalonkan diri sebagai Presiden RI.

Yusril menekankan ceramahnya di Medan tersebut berkaitan dengan draf penyusunan UUD 45 terkait syari’at Islam dan syarat menjadi Presiden yang semula disepakati yakni ‘orang Indonesia asli dan beragama Islam’.

Kesepakatan tentang syariat Islam tersebut menurut Yusril dihapuskan setelah melalui pembahasan.

“Sementara syarat presiden harus ‘beragama Islam’ ini kemudian entah bagaimana ceritanya turut hilang dengan disahkannya UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945. Yang tersisa adalah ‘orang Indonesia asli’,” kata Yusril melalui keterangan tertulis, Selasa (3/3).

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, di Jakarta, 2017.
Terlahir sebagai WNA, Yuril mengatakan Ahok tidak bisa menjadi Presiden RI. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Namun kemudian, imbuh Yusril, syarat ‘orang Indonesia asli’ akhirnya hilang juga dengan amandemem UUD 45 pada tahun 2003.

Rumusan Pasal 6 ayat (1) UUD 45 yang baru menyatakan bahwa Presiden adalah warganegara sejak kelahirannya dan tidak pernah memperoleh kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri.

“Dalam konteks di atas itu saya memberi contoh tentang Ahok, yang menurut UUD 45 tidak bisa menjadi Presiden karena tidak memenuhi syarat sebab tidak terlahir sebagai warganegara Indonesia,” ungkap Yusril.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu pun kembali menegaskan jika Ahok bukan terlahir sebagai WNI karena ayahnya Ahok, Tjung Kim Nam adalah warganegara Tiongkok.

“Sebelumnya beliau mempunyai dwi kewarganegaraan,” urai Yusril.

Dalam kasus orangtua Ahok itu, sesuai UU Nomor 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan RI, status dwi kewarganegaraan harus diakhiri dengan cara memilih salah satu, menjadi Warga Negar Indonesia (WNI) atau memilih tetap menjadi Warga Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Kesepakatan pengakhiran status dwi kewarganegaraan itu, kata Yusril, dicapai dan dirumuskan dalam ‘Persetujuan Soenario-Tjou En Lai’, antara Menlu RI dan Menlu RRT.

“Maka orang Cina di Indonesia pada tahun 1962 disuruh memilih. Ayah Ahok, mendiang Tjung Kim Nam memilih warganegara RRT. Ahok lahir 1966, maka Ahok otomatis ikut warganegara ayahnya, RRT,” ujar Yusril.

Ketika ayah Ahok dinaturalisasi, maka Ahok yang kala itu berusia 20 pada tahun 1986 otomatis menjadi WNI. Nama Ahok ada dalam Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SKBRI) Tjung Kim Nam yang telah dinaturalisasi tahun 1986.

Kronologi seperti di atas, menurut Yusril perlu dielaborasi secara rinci sehingga menyebut nama ayah Ahok, Tjung Kim Nam tidak dapat dihindari.

Mantan Menteri Kehakiman itu menjelaskan hal itu semata-mata dikemukakan sebagai contoh karena Ahok pernah menyatakan kepada publik, keinginannya untuk menjadi Presiden RI.

“Dengan penjelasan kronologis itu, Ahok praktis tidak memenuhi syarat menjadi Presiden RI sebagaimana diatur Pasal 6 ayat (1) UUD 45,” kata Yusril.

Lebih lanjut, Yusril mengatakan jika ada yang salah dan keliru karena telah menyinggung kewarganegaraan ayah Ahok, dirinya meminta maaf.

“Namun yang menjadi pertanyaan saya adakah sesuatu yang salah dan keliru dalam pidato saya di Medan itu? Saya justru tidak membaca adanya bantahan, sanggahan atau koreksi dalam surat terbuka adik Ahok, Harry Basuki Tjahaja Purnama,” demikian Yusril. (DAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 85 = 89