Sudah Setorkan Rp5 Juta, Ibu Ini tak lihat Nama Anak di Pengumuman PPDB Online

Sudah Setorkan Rp5 Juta, Ibu Ini tak lihat Nama Anak di Pengumuman PPDB Online

 

 

 

JAKARTA – Sejumlah masalah ditemukan orangtua yang ingin mendaftarkan putra-putri mereka lewat sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) online kota Tangerang Selatan. Bahkan, seorang ibu nekat mengeluarkan Rp 5 juta agar nama anaknya muncul di pengumuman PPDB SMP Negeri di Tangsel.

Mimi warga Serpong, Tangerang Selatan, mengaku menyetorkan uang itu pada seseorang setelah dikenalkan seorang teman.

“Saya percaya, karena dikenali lewat teman. Dia meyakini bisa membawa anak saya bersekolah di SMP Negeri,” kata Mimi saat ditemui di SMPN 11 Tangerang Selatan, Minggu (15/7).

Sebenarnya, Mimi sudah mulai curiga setelah hasil pengumuman PPDB online di publikasikan pada (12/7) kemarin.

“Saya dijanjikan pasti masuk, karena saya tahu ada pengumuman lagi hari kemarin Sabtu (14/7) saya datangi posko. Ternyata juga tak ada nama anak saya. Kemarin masih jawab telepon saya, sekarang sudah tidak bisa ditelpon,” ucapnya.

Sebelumnya, pada Sabtu (14/7) kemarin, sang anak sudah mengikuti kegiatan di sekolah negeri yang dijanjikan oknum tersebut. Dia juga telah membeli seragam sekolah yang dibeli di sekolah seharga Rp 450 ribu.

“Katanya suruh masuk sekolah kemarin Sabtu, saya juga sudah beli seragam di sekolah Rp 450 ribu. Tapi pas saya cek hari ini nama anak saya masih belom ada. Orangnya saya hubungi engga aktif aktif,” kata Mimi panik.

Dia mengaku nekat membeli kursi sekolah negeri kepada pihak tak dikenal, karena memahami nilai anaknya tak sebagus nilai-nilai calon pendaftar lain. Lantaran tidak pede (percaya diri) akhirnya dia menggunakan jalan pintas, asalkan sang anak diterima bersekolah di negeri.

“Saya dari awal sudah kasak-kusuk, tahu nilai anak saya kecil cuma 21,9. Makanya pas ada yang nawarin dan menjanjikan pasti diterima ya saya ikut,” katanya.

Mimi menceritakan, sejak awal berkenalan sampai penyerahan uang Rp 5 juta yang dia berikan kepada oknum tersebut, tak pernah sekalipun dia bertemu.

Semua perkenalan dan janjian untuk penyerahan uang, dilakukan berdasarkan komunikasi melalui telepon selular.

“Engga pernah ketemu sama sekali, penyerahan uang Rp5 juta saya yang berikan, tapi orangnya nyuruh orang lain, dan benar-benar cuma memberikan uang saja, engga ngobrol atau apapun ke yang nerima uang saya,” katanya.

Setahunya, tak hanya dirinya yang menjadi korban dari oknum itu, tapi ada dua orang lain setahunya yang turut menjadi korban. “Ada juga yang katanya sudah bayar 8 juta dan 10 juta. Tadi kami ketemu bicara,” kata dia.

Mimi mengaku tak dapat menerima kenyataan ini, namun dirinya juga bingung harus melapor ke mana. “Ini saya lagi usut, karena saya juga dapat nomor orang itu dari teman,” katanya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 3 = 1