Stadium Darurat, Limbah Abu PLTU Ombilin Kembali Resahkan Warga

Abu PLTA Ombilin Sawahlunto. (tumpak)

SAWAHLUNTO –  Abu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin di Kota Sawahlunto kembali meresahkan warga beberapa desa di kawasan itu.

Keresahan warga tersebut disampaikan salah seorang warga Talawi Hilir, Azhlan, dikarenakan sudah lebih seminggu setiap hari harus membersihkan teras rumah yang diselimuti abu hitam keabu-abuan yang dihasilkan dari limbah PLTU Ombilin tersebut.

“Abunya sudah terlalu banyak di lantai teras rumah, kalau di atap rumah susah membersihkannya,” keluh Azhlan, Sabtu (14/7).

 Sama halnya dengan Azhlan, warga Talawi Hilir, Fitriati (31) yang tak lagi menjemur cucian hariannya di pekarangan rumah karena tak ingin kotor akibat tebaran abu pekat limbah PLTU itu.

“Kalau menjemur pakaian tak bisa lagi di luar, karena abunya buat kotor. Terpaksa, harus di belakang dan tempat yang tertutup atap,” keluhnya.

Terkait maraknya limbah abu PLTU Ombilin itu tak ditampik, Irwan, Kabid Lingkungan Hidup Dinas Kawasan Pemukiman Pertanahan dan Lingkungan Hidup Kota Sawahlunto. Namun, ia memastikan bahwa pihak menajemen PLTU Ombilin telah melakukan perbaikan agar abu tersebut tidak mengotori udara dan pemukiman masyarakat.

 “Pihak PLTU Ombilin telah berupaya menperbaiki kerusakan alat Dush Conditioner dan Electrostatic Presipitator (EP). Kondisinya mulai baik kembali,” jelas Irwan, Minggu (15/7).

“Kita tetap akan memantau perkembangan tiap harinya serta diharapkan pihak PLTU Ombilin terus melakukan upaya agar tak terjadi kerusakan atau upaya melakukan pembenahan. Serta, upaya inovasi kerjasama pemanfaatan limbah  agar dapat dimanfaatkan,” sebutnya.

Diketahui, abu atau Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) PLTU Ombilin di Kota Sawahlunto telah memasuki stadium darurat. Setiap bulan, limbah tersebut mencapai 70 ribu ton.

Sementara, pihak PLTU Ombilin kesulitan dengan tempat pembuangan limbah yang sudah menumpuk. Sebelumnya, dengan PP 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, limbah tersebut bisa dikembalikan ke pengusaha tambang. Namun, sejak berlakukannya PP 101 Tahun 2014, PLTU tak bisa lagi mengirim limbahnya ke perusahaan tambang.

Pihak Sektor Pembangkit Ombilin saat menerima reses anggota Komisi VII DPR RI November 2016 lalu di PLTU Ombilin pernah menyampaikan keluhan limbah B3 PLTU Ombilin sudah darurat. Kalau tidak ada solusi hingga dua atau tiga bulan ke depan, otomatis PLTU tidak bisa lagi membuang abu keluar dari PLTU Ombilin. Jika tak bisa membuang limbah, maka PLTU tak bisa beroperasi dan harus stop (berhenti) operasional.

Saat ini, PLTU Ombilin sudah beroperasi dengan kapasitas yang diturunkan dari 2 x 100 MW menjadi 2 x 60 MW. Makin tinggi kapasitas operasionalnya, maka makin tinggi MW yang dihasilkan. Bahan bakar yang digunakan juga akan lebih banyak sehingga limbahnya pun semakin banyak pula.

Penurunan beban tersebut untuk tetap menjaga suplai  listrik. Kalau PLTU Ombilin stop, sebenarnya semuanya telah menjadi kewajaran untuk distop akibat limbah produksi telah melebihi kapasitas. Dampaknya, Sumbar akan mengalami pemadaman listrik. Beban puncak Sumbar tidak terlayani sebanyak 20 sampai 30 persen.

Alternatif untuk pembuangan limbah B3 seperti landfill atau penimbunan sampah pada satu lubang sudah dilakukan sejak tahun 2011. Kendala yang dialami di Sawahlunto adalah kesulitan lahan atau lokasi landfillyang cukup luas. Untuk merealisasikan itu, perlu mengurus izin dan ketentuan serta persyaratan teknis. Berbeda dengan beberapa daerah seperti di Jawa, ada pemanfaatan cukup besar yang bisa menyerap abu limbah B3 sisa pembakaran. (tumpak)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 3 =