Sebanyak 936 Pendekar dari Empat Negara Ikuti Festival Silat International di Padang

Sebanyak 936 Pendekar dari Empat Negara Ikuti Festival Silat International di Padang

Peserta berlaga FSI 2018 di Kyriad bumi minang, Kamis (11/7)

 

PADANG – Sebanyak 936 pendekar dari 4 negara berlaga dalam Festival Silat Internasional II di Hotel Kyriad Bumi Minang, Padang, Sumatera Barat, 11-15 Juli 2018.

“Keempat negara tersebut, yakni Malaysia, Singapura, Jepang, Suriname Amerika Serikat, dan Indonesia dengan enam provinsi,” kata Kadispora Sumbar Adib Alfikri.

Adib Alfikri menyebutkan Festival Silat Internasional itu tidak hanya mempertandingkan tingkat negara saja namun juga kelas di bawahnya, seperti tingkat kota dan kabupaten serta provinsi.

Lanjutnya, FSI merupakan ruang bagi pesilat dari Tanah Minang untuk mengembalikan lagi muruah silat yang berasal dari Sumbar. Pemprov Sumbar juga merestui agar ajang yang sudah dua kali diadakan ini bisa dijadikan festival tahunan.

Menurutnya, Festival Silat Internasional, , bisa menjadi alat promosi dan kalender rutin Sumatera Barat untuk mengenalkan budaya dan potensi pariwisata Sumatra Barat. Dalam penyelenggaraan FSI tahun-tahun mendatang, panitia juga berencana mengundang lebih banyak peserta dari negara yang lebih beragam.

“Kita kabarkan pada dunia bahwa di sinilah silat itu berasal. Di sinilah Silek-Silek Tuo itu berasal,” pungkasnya

Secara khusus, kata dia, perhelatan Festival Silat Internasional untuk menarik animo masyarakat mencintai olahraga bela diri tradisional Indonesia.

Terlebih, katanya, beberapa nagari di Kota Padang cukup memiliki nama dalam perkembangan dunia persilatan.

Dia mengharapkan ajang itu membangkitkan kembali pencak silat di Kota Padang yang mulai tergerus oleh zaman.

“Bagi atlet, kedatangan pesilat dunia seperti dari Suriname, Singapura dan Malaysia tentu akan menambah pengalaman dan latih tanding yang sepadan,” ujarnya.

Khusus bagi Padang, katanya, tentu dapat dijadikan persiapan untuk menghadapi ajang olahraga lainnya, misal Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), porwil, dan PON.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Erizal Chaniago menuturkan, FSI pada prinsipnya bukan sebagai ajang kompetisi. Ajang ini lebih bersifat sebagai gelanggang untuk memperkenalkan berbagai aliran silat yang ada, baik dari Nusantara atau dari mancanegara.

“Ini adalah festival, bukan perlombaan. Gelanggang ini dibuat untuk silat-silat ini bisa dikenal banyak orang dan tidak punah,” ujarnya.

Ia juga mengajak pesilat dari luar negeri untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengenal kembali tanah kelahiran silat. Menurutnya, ratusan aliran silat dari Tanah Minang dan daerah lain di Indonesia kemudian berkembang ke daerah dan negara lain.�(RI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

57 + = 65