Persepsi Konsumen terhadap Pertumbuhan Ekonomi RI Cukup Positif

Persepsi Konsumen terhadap Pertumbuhan Ekonomi RI Cukup Positif

Jakarta: Persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian Indonesia cenderung positif seiring optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia. Optimisme terhadap masa depan perekonomian di Indonesia merupakan imbas sentimen positif dari kondisi perekonomian Indonesia di tahun sebelumnya.

Managing Director Inside.ID Andres Christian mengatakan optimisme tersebut muncul dari survey ‘Understanding Indonesian Consumers Outlook 2018’. Hasil survey tersebut menunjukan 58 persen responden memberikan respons positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia pada masa depan.

“Dari hasil survey Inside.ID, konsumen di Indonesia cenderung memiliki optimisme tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara itu, 15 persen responden memberikan respons yang pesimistis, sisanya sebanyak seperempat dari total responden memilih netral,” kata dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 8 Maret 2018.

Dalam riset ini pula muncul perubahan perilaku konsumen Indonesia terkait dengan pendapatan dan pengeluaran bulanan. Pada dasarnya sebagian besar konsumen di Indonesia mengaku bahwa pada 2017 pendapatan mereka mengalami kenaikan.

“Namun hanya 54 persen yang mengaku kenaikan pendapatan yang mereka dapatkan tidak terlalu signifikan. Sementara itu, sisanya menyampaikan bahwa pendapatan bulanan mereka tidak berubah atau justru mengalami penurunan,” jelas dia.

Dirinya menambahkan, dari pendapatan yang didapatkan setiap bulan, sekitar 11 persen dari konsumen Indonesia mengklaim bahwa mereka memiliki pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengeluaran. Namun, secara umum perbandingan antara pendapatan dan belanja hampir sama, yaitu mencapai 68 persen.

“Dengan kata lain, meski konsumen di Indonesia memiliki kenaikan pendapatan, namun nampaknya biaya bulanan yang mereka konsumsi juga meningkat. Rata-rata sebanyak 32 persen pendapatan dihabiskan untuk biaya konsumsi kebutuhan pokok bulanan seperti kebutuhan sandang dan pangan,” pungkasnya.

Sementara itu, sebanyak 29 persen pendapatan digunakan untuk kebutuhan rutin bulanan seperti biaya telepon, listrik, dan pulsa, dan rata-rata sebanyak 13 persen dari pendapatan digunakan untuk membayar kartu kredit maupun cicilan bulanan. Setelah itu, sisanya baru dialokasikan untuk investasi, asuransi, maupun pembelanjaan tersier seperti berwisata bersama keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 5