Menakar Risiko Karhutla di Sumbar

Kebakaran hutan di lereng Gunung Talang yang terletak di Solok, Sumatra Barat telah padam sepenuhnya pada Jumat (2/2) sore.

 

“Masyarakat diminta hati-hati terutama di area perkebunan dan hutan…”

 

 

REPUBLIKA.CO.ID,  PADANG — Sumatra Barat, berjejer dengan provinsi lainnya di Pulau Sumatra, memiliki risiko kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup tinggi, baik yang disebabkan oleh faktor alam atau akibat ulah manusia. Terakhir, pada Februari 2018 sekitar 10 hektare lahan di lereng Gunung Talang terbakar.

Beberapa daerah di Sumbar yang sempat mencatatkan kejadian karhutla adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Pasaman. Kerawanan bencana karhutla ini membuat Pemerintah Provinsi Sumatra Barat harus menjaga kesiapsiagaan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.

Memasuki bulan April 2018, curah hujan di Sumbar ternyata masih cukup tinggi. Lantas seberapa besar potensi kejadian karhutla di Sumbar saat ini?

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, Budi Samiadji, menyebutkan bahwa sejumlah daerah yang disebutkan di atas masih memiliki tingkat risiko terjadinya kahutla karena cuaca yang cukup terik beberapa hari ini.

Berdasarkan pengamatan BMKG, Sumbar bagian barat memiliki tingkat kerentanan karhutla lebih tinggi dibanding wilayah sebelah tengah dan timur. Risiko karhutla menyebar ke sejumlah daerah seperti Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, sebagian Agam, Padang Pariaman bagian barat, Kota Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan bagian barat, dan Kabupaten Solok bagian barat.

Budi mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memanfaatkan perapian terutama di area perkebunan dan hutan. Sumatra Barat bagian barat memang cenderung panas di siang hari untuk beberapa hari ke depan. Namun, malam harinya diwarnai potensi hujan yang juga cukup tinggi. Artinya, meski risiko kebakaran hutan dan lahan masih ada, terutama di siang hari, namun ‘obat penawar’ berupa potensi hujan juga terpantau muncul di malam hari.

“Tapi tetap, masyarakat diminta hati-hati menyalakan api. Karena cuaca yang kering di siang hari tentu menyumbang risiko yang lebih tinggi terhadap karhutla,” ujar Budi, Kamis (12/4).Secara umum, BMKG memantau bahwa kondisi atmosfer di Sumatra Barat pada April 2018 masih cukup tinggi. Namun, lanjut Budi, sebaran curah hujan yang tinggi baru terjadi mulai pertengahan bulan. Sementara di periode awal April 2018, Sumbar masih dibayangi cuaca yang cukup terik.

Budi mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakarnya. Teriknya cuaca akan membuat sebaran api tak terkendali dan sulit dipadamkan. “Kemudian juga jangan sembarangan membuang puntung rokok di lahan yang kering,” kata dia.

BMKG juga mencatat, suhu udara harian di Sumatra Barat berada di rentang 19 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembaban udara berada di rentang 65 sampai 98 persen. Sementara angin berhembus dari barat ke arah timur laut dengan kecepatan rata-rata 15 kilometer per jam.

Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit juga mengingatkan masyarakat khususnya pemilik ladang atau kebun untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Pihaknya mencatat, risiko kebakaran hutan dan lahan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman.

“Kalau terbakar, imbasnya juga ke kita semua. Saya minta bupati dan wali kota pastikan daerahnya aman,” ujar Nasrul.

Pemprov Sumbar juga meminta masing-masing kepala daerah untuk menggiatkan sosialisasi mitigasi bencana bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mitigasi bencana yang dimaksud sebetulnya tidak terbatas pada kebakaran lahan dan hutan, namun juga risiko bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor yang membayangi wilayah Sumatra Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 7