Mahasiswi Ini Bikin Permen untuk Penderita Kanker Payudara

Mahasiswi Ini Bikin Permen untuk Penderita Kanker Payudara

Karya yang dibuat Wimmy Safaati tergolong sederhana. Dasar pemikirannya dari keprihatinan atas banyaknya wanita meninggal karena kanker payudara. Foto/SINDOnews/Dok

 

 

SOLO – Karya yang dibuat Wimmy Safaati Utsani tergolong sederhana. Dasar pemikirannya berangkat dari keprihatinan atas banyaknya wanita yang meninggal dunia karena kanker payudara.

Berbekal hasil jurnal penelitian dari dalam dan luar negeri mengenai daun sirsak untuk pengobatan kanker payudara. Yakni kasiatnya 1.000 kali lebih ampuh untuk melawan sel kanker payudara.

Anak pasangan Sadiman-Sutiah itu lalu memiliki ide agar penderita tetap bisa enak menikmati jika memanfaatkan daun sirsak untuk pengobatan. Sebab rebusan daun sirsak pada dasarnya memiliki rasa pahit jika diminum.

“Sehingga saya berpikir dibuat permen jeli agar rasanya tetap enak meski untuk pengobatan,” ungkap Wimmy, Minggu (8/4/2018).

Pengobatan dengan cara herbal menjadi pilihan karena biayanya lebih murah dibanding kemoterapi yang cukup mahal. Selain itu efek sampingnya juga sangat sedikit.

Seminggu sebelum perlombaan yang diikuti para peserta dari berbagai negara, Wimmy secara dadakan mulai membuat permen jeli dari daun sirsak. Dan untuk membuat produknya kala itu, dia hanya membutuhkan waktu dua hari.

Mulai dari perebusan daun sirsak hingga benar benar kering. Bahan yang dipakai antara lain daun sirsak, agar-agar, gula rendah kalori, dan asam sitrat.

Karena masih coba coba, ia belum menggunakan takaran yang pasti. Kala itu adalah tujuh daun sirsak direbus di air setengah wajan. Ketika mulai mendidih, air berubah berwarna coklat karena ada kandungan aktif acetogenin dari daun sirsak yang keluar.

Acetogenin merupakan zat aktif untuk membunuh kanker payudara. Saat itu pula, gula rendah kalori, agar agar, dan asam sitrat dimasukkan. Setelah perebusan cukup, lalu dilakukan pendinginan. Setelah dingin, lalu dimasukkan ke dalam kulkas agar beku.

Setelah padat seperti jeli, permen siap untuk konsumsinya. “Saya sengaja menggunakan gula rendah kalori agar tetap aman untuk penderita diabetes,” urainya.

Dengan berbentuk permen jeli, penderita kanker payudara dapat nyaman saat menkonsumsi karena seperti camilan. Diakui, produk buatannya itu dosisnya belum diketahui.

Dengan demikian, ke depan menjadi penelitian lebih lanjut. Termasuk komposisi bahan bahan yang digunakan ukurannya sebesar besar agar hasilnya maksimal untuk pengobatan. Dengan keberhasilan meraih medali perak, pihak kampus UMS sendiri berjanji akan memberikan penghargaan untuk mahasiswanya yang berprestasi.

“Keberhasilan yang dicapai tentunya akan diberi reward. Bentuknya masih akan dibicarakan lebih lanjut,” ungkap Rektor UMS Solo Dr Sofyan Anif.

Prestasi yang diraih cukup membanggakan karena pesertanya dari berbagai negara. Prestasi yang diraih, sejalan dengan upaya UMS dalam rangka penguatan di bidang internasional.

Sebab ditargetkan pada tahun 2029 mendatang, UMS sudah masuk tahap world class university. Keberhasilan mahasiswanya, sebagai bukti dalam rangka visi besar UMS.

“Ketika kami memutuskan menuju world class university, maka harus diimbangi kebijakan yang mengarah ke sana,” urainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 66 = 68