KPPU Usut Potensi Pengaturan Harga Ayam dan Telur di Padang

Telur ayam yang harganya masih tinggi

Telur ayam yang harganya masih tinggi

 

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Harga daging dan telur ayam di Pasar Raya, Kota Padang, Sumatra Barat mulai mengalami penurunan. Meski begitu, Kantor Perwakilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Medan mencoba mengusut potensi pengaturan harga di pasaran Sumatra Barat. Apalagi kenaikan harga yang sempat terjadi berbeda dengan pola tahunannya, yakni kenaikan harga biasa terjadi menjelang Ramadhan dan Lebaran.

“Kemarin harga naik setelah lebaran. Saat ini harga ayam sudah mulai turun, namun harga telur masih tergolong tinggi,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU Medan, Ramli Simanjuntak usai melakukan inspeksi mendadak di Pasar Raya Padang, Rabu (1/8).

Dari pantauan di lapangan, harga telur saat ini dibanderol di angka Rp 43 ribu hingga Rp 45 ribu per krat atau Rp 1.400 per butir. Angka ini lebih murah dibanding harganya dua pekan lalu yang sempat menyentuh Rp 48 ribu per krat atau Rp 1.600 per butir.

Sementara untuk komoditas daging ayam ras, pedagang menjual dengan harga Rp 40 ribu-an per ekor. Meski angka ini sudah jauh di bawah harga jual dua pekan lalu yang mencapai Rp 55 ribu per ekor, harga jual saat ini masih di atas harga normal sebesar Rp 30 ribu per ekor. Kalau dihitung per kilogram (kg), daging ayam dijual di rentang Rp 24 ribu – Rp 30 ribu per kg, masih lebih mahal dibanding harga normalnya Rp 19 ribu per kg.

Ramli mengatakan bahwa pihaknya sedang mengusut penyebab kenaikan harga ayam dan telur di Sumatra Barat. Sejumlah alasan memang sempat disampaikan pedagang, termasuk kenaikan harga pakan. Namun menurut kajian yang dilakukan KPPU Medan, rata-rata kenaikan harga pakan ayam hanya dalam rentang Rp 100 hingga Rp 200 per kg.

“Dan biaya produksinya tiak sebanding dengan kenaikan harga yang ada di pasar,” jelas Ramli.

Meski di Padang sendiri harga daging dan telur ayam sudah mulai menurun, KPPU menjanjikan akan tetap memanggil pabrikan pakan ternak dan pemasok DOC (day-old chicken) untuk dimintai keterangan. Sebagian pabrikan memang berada di Medan, Sumatra Utara, namun distribusi pakannya menyebar hingga peternak di Sumatra Barat.

“Jika mereka sengaja permainkan pasokan, ini menjadi indikasi mereka dan melanggar aturan. Kalau ayam disampaikan tidak ada pengurangan namun pasokan ke pasar berkurang. Ini yang kami telusuri, pengaturan atau tidak,” kata Ramli.

Salah satu pedagang telur ayam di Pasar Raya Padang, Rismal (34 tahun), menyebutkan bahwa turunnya harga disebabkan pasokan yang mulai mengalir lancar. Selain itu, permintaan masyarakat yang sempat menurun saat harga telur mahal juga membuat harga perlahan turun.

Pedagang lainnya, Devi (43 tahun), menyebutkan bahwa penurunan harga telur ayam mulai terjadi dalam sepekan belakangan. Ia menilai, langkanya pasokan dalam sebulan belakangan lebih disebabkan banyaknya telur produksi Sumbar yang justru didistribusikan ke luar daerah.

Sementara itu, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah menambahkan, pihaknya telah membentuk satuan tugas yang berperan memantau pergerakan harga pangan strategis di pasar. Bila terindikasi adanya kenaikan harga secara signifikan, tim akan langsung turun ke distributor dan peternak serta petani untuk memastikan mata rantai distribusi berjalan normal.

“Kalau ada indikasi permainan ya kami akan tindak lanjuti. Kami akan laporkan, dan kami ada tim untuk pengawasan ini,” kata Mahyeldi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

69 − 61 =