Kenaikan harga BBM nonsubsidi penyumbang terbesar inflasi di Padang

Kepala BPS Sumbar Sukardi (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)

 

 

 

 

 

Padang, (Antaranews Sumbar) – Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi menjadi penyumbang terbesar inflasi di Padang pada Juli 2018 dengan andil 0,11 persen berdasarkan hasil pantauan Badan Pusat Statistik Sumatera Barat.

“Di Sumbar khususnya pada Juli terjadi kenaikan BBM nonsubsidi hingga dua kali pertama oleh Pertamina dan kedua naiknya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dari lima persen jadi 7,5 persen,” kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Rabu.

Ia menyampaikan pada Juli 2018 laju inflasi di Padang mencapai 0,62 persen atau naik dibandingkan Juni yang hanya 0,39 persen.

Selain kenaikan harga BBM nonsubsidi harga ayam ras juga jadi penyumbang inflasi pada Juli 2018 dengan andil 0,10 persen.

Kemudian angkutan udara 0,09 persen, beras 0,08 persen, jengkol 0,06 persen, telur ayam ras 0,06 persen dan bimbingan belajar 0,04 persen.

Dari 23 kota di Sumatera pada Juli 2018, sebanyak lima kota mengalami deflasi serta 18 kota mengalami inflasi dan yang tertinggi terjadi di kota Bengkulu sebesar 0,86 persen.

Sementara Padang menduduki peringkat kelima dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera dan urutan 16 secara nasional.

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di Sumatera Barat naik 2,5 persen sejak 16 Juli 2018 karena diberlakukannya Peraturan Daerah Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).

“Biasanya PBBKB hanya 5 persen. Sekarang naik menjadi 7,5 persen. Akibatnya harga BBM nonsubsidi memang naik 2,5 persen,” kata Kepala Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Sumbar, Zaenuddin.

Zaenuddin menyebutkan harga BBM jenis Pertalite di Sumbar naik menjadi Rp8.000 per liter atau naik sekitar Rp200 dari harga awal yaitu Rp7.800 per liter.

Sementara untuk dexlite naik dari awalnya Rp9000 menjadi Rp9.200 per liter.

Ia menilai kenaikan harga itu tidak terlalu membebani masyarakat kurang mampu karena BBM subsidi tidak dikenai kenaikan pajak.

Kenaikan itu juga masih dalam batasan yang dibenarkan oleh Undang-Undang perpajakan, yaitu maksimal 10 persen.

Pada sisi lain Sekretaris Koperasi Persatuan Pedagang Peternak Ayam Pasar Raya Padang, Rajabman mengatakan dalam tiga pekan terakhir terjadi kenaikan harga telur ayam mencapai Rp1.600 dari harga normal Rp1.300 per butir dan daging ayam ras dari Rp24 ribu per kilogram, menjadi Rp31 ribu per kilogram.

Menurutnya saat harga ayam ras tertinggi Rp31ribu justru pasokan tidak ada sehingga ia meminta pemerintah melakukan stabilisasi harga.

Ia mengakui akibat kenaikan tersebut pembeli menurun dan tidak lagi berbelanja ayam karena harga yang dianggap terlalu mahal.

Namun berdasarkan pantauan di Pasar Raya Padang pada Rabu harga telur ayam sudah mulai turun dari Rp1.600 per butir menjadi Rp1.500 dan daging ayam ras turun dari Rp31 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

88 − = 84