Kemenkes: Kasus Thalasemia di Indonesia Meningkat

Seorang warga memeriksa darahnya saat peringatan hari Thalasemia Sedunia di Jakarta. (ilustrasi)

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Asjikin Iman Hidayat mengatakan kasus penyakit thalasemia meningkat dari tahun ke tahun karena minimnya pemahaman masyarakat atas penyakit tersebut.

“Kasus Thalasemia terus meningkat karena pengetahuan di masyarakat masih sangat minim,” kata Asjikin di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (7/5).

Berdasarkan data dari Yayasan Thalasemia Indonesia, kasus thalasemia (kelainan sel darah merah) mayor di Indonesia terus meningkat sejak lima tahun terakhir. Pada tahun 2012 terdapat 4.896 kasus thalasemia mayor dan pada 2017 terus meningkat menjadi 8.616 kasus.

Dia menerangkan saat ini masih sedikit masyarakat yang memahami apa itu penyakit thalasemia sehingga pencegahan satu-satunya terhadap penyakit yang diwariskan ini, yaitu skrining, baru sedikit dilakukan oleh masyarakat.

Penyakit thalasemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang mudah pecah sehingga penderitanya membutuhkan transfusi darah untuk menutupi kekurangan tersebut. Namun dengan transfusi darah tersebut menyebabkan tubuh penderitanya kelebihan zat besi yang bisa menimbulkan penyakit komplikasi seperti gagal jantung, diabetes, gangguan ginjal, osteoporosis dan sebagainya.

Apabila thalasemia tidak ditangani dengan transfusi darah akan menyebabkan anemia kronis dan berakibat fatal. Thalasemia merupakan penyakit genetik yang diwariskan oleh orang tua kepada keturunannya. Penyakit ini tidak menular melainkan hanya diturunkan.

Thalasemia mayor adalah penderita thalasemia yang membutuhkan transfusi darah seumur hidupnya. Sementara thalasemia minor hanyalah pembawa sifat yang kondisi tubuhnya sama sebagaimana orang normal.

Jika seorang thalasemia mayor menikah dengan orang normal, probabilitas anaknya 100 persen pembawa sifat. Jika seorang thalasemia minor menikah dengan orang normal, probabilitas anaknya sehat 50 persen dan menjadi thalasemia minor 50 persen.

Namun jika thalasemia minor menikah dengan thalasemia minor 25 persen kemungkinan anaknya akan menjadi thalasemia mayor, 25 persen kemungkinan sehat dan 50 persen thalasemia minor. Oleh karena itu pencegahan paling efektif dalam memutus mata rantai keturunan thalasemia adalah skrining untuk mengetahui statusnya, dan mencegah menikah dengan sama-sama pembawa sifat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = 9