Kemenag Sanksi 26 Biro Umrah Nakal

Kemenag Sanksi 26 Biro Umrah Nakal

 

 

Jakarta: Kementerian Agama (Kemenag) telah menjatuhkan sanksi bagi 26 penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU/biro umrah) resmi sejak 2015. Pemberian sanksi karena berbagai alasan.

“Untuk tahun ini, hingga April, kami sudah mencabut izin empat PPIU nakal,” kata Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Arfi Hatim dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 12 April 2018.

Arfi mengungkapkan untuk biro umrah yang tidak resmi, penanganan dilakukan Kepolisian RI. Sanksi yang dijatuhkan bagi PPIU resmi yang melanggar aturan itu beragam, termasuk pencabutan izin.

Sanksi pencabutan izin itu diberlakukan untuk PT Mediterrania Travel, PT Mustaqbal Lima, PT Ronalditya, PT Kopindo Wisata, PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa Tour), PT Diva Sakinah, dan PT Hikmah Sakti Perdana.

Lalu, PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel), PT Biro Perjalanan Wisata Al-Utsmaniyah Tours (Hanien Tours), PT Interculture Tourindo, PT Amanah Bersama Umat (ABU Tours), PT Solusi Balad Lumampah (SBL), dan PT Mustaqbal Wisata Prima.

Sanksi untuk biro umrah lain yang melanggar aturan berupa tidak diperpanjang izin berdasarkan hasil pengawasan dan pengendalian serta tidak diperpanjang izin berdasarkan akreditasi.

“Penjelasan ini sekaligus klarifikasi atas informasi yang viral di media sosial tentang 30 daftar PPIU yang telah dicabut izinnya oleh Kemenag,” kata dia.

Terpisah, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan koordinasi antara Polri dan Kemenag dalam pengawasan biro umrah selalu dilakukan. Namun, sebagian biro umrah memang kerap menyelewengkan persyaratan yang harus dipenuhi. Karena itu, pengawasan akan diperketat.

“Aturan-aturan lebih diperketat, juga pengawasannya,” kata dia.

Terkait dengan kasus ABU Tours, Setyo menjelaskan kepolisian masih melacak aset-aset milik biro umrah tersebut. Sejauh ini lebih dari 10 rekening telah dibekukan.

Diakui Setyo, penyelidikan kasus ABU Tours tidaklah mudah. “Saat ditanya kan mereka enggak langsung ngaku ‘Iya ini aset saya’. Setelah ditunjukkan bukti-buktinya, baru mereka mau mengakui,” ujar Setyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 3 =