Kasus DBD di Kota Pariaman Meningkat

Kasus DBD di Kota Pariaman Meningkat

 

PARIAMAN, HARIANHALUAN.COM – Kasus penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pariaman pada triwulan I tahun 2018 ini terbilang naik dibandingkan triwulan I tahun 2017 lalu. Triwulan I tahun 2017 hanya ada 16 kasus atau 16 orang terserang DBD, namun pada kurun waktu yang sama tahun 2018, yakni bulan Januari – Maret, angka ini naik menjadi 21.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Bakhtiar kepada Haluan, Kamis (12/4) mengatakan, terjadinya peningkatan kasus DBD salah satu faktor penyebabnya adalah pemberantasan sarang nyamuk yang belum maksimal.

“Pada kasus DBD triwulan I tahun ini, bisa dipastikan tiap kecamatan di Kota Pariaman ada warga yang terserang DBD,” sebutnya.

Bakhtiar didampingi Kabid Pencegahan Penyakit Menular (P2P), Rio Arisandi lebih jauh menjelaskan, pencegahan DBD bisa diminimalisir dengan cara pemberantasan sarang nyamuk DBD dan menjaga lingkungan tetap bersih.

Fogging yang dilakukan, hanya mematikan nyamuk dewasa tapi tidak pada jentiknya. Untuk itu, diperlukan melakukan pemberantasan melalui membersihkan sarang nyamuk sebagaimana yang sudah sering disosialisasikan oleh pihak Dinkes ke masyarakat,” ungkapnya lagi.

Racun fogging yang memiliki daya bunuh tinggi atau biasa disebut dengan LD50 akan membahayakan lingkungan seperti pencemaran air dan sangat berisiko fatal jika zat yang dikandung termakan.

Pemerintah Kota Pariaman, lanjutnya, melalui APBD, selalu menganggarkan untuk kegiatan pencegahan penyakit DBD. Tahun 2018 ini saja dianggarkan sebanyak Rp160 juta dari APBD. Namun, dalam meminimalisirkan kasus tanpa keinginan bersama dengan masyarakat tidak akan maksimal juga.

Sebagaimana diketahui, dari data yang diperoleh dari pihak Dinkes Kota Pariaman diketahui, tahun 2014 lalu tercatat 45 kasus DBD di daerah ini. Kemudian tahun 2015 hingga tercatat 80 kasus yang meliputi empat kecamatan.

Ia menjelaskan, peningkatan angka yang cukup siginifikan tersebut dipengaruhi pola hidup masyarakat yang tidak bersih dan perilaku yang tidak berubah meskipun telah ada pemberitahuan dan imbauan dari pemerintah setempat.

Perilaku yang tidak berubah tersebut seperti lingkungan kotor, sampah berserakan, air yang tergenang dalam dispenser, ventilasi yang tidak ada, dan kondisi rumah yang gelap juga mempengaruhi hal tersebut.

Untuk mencegah DBD, ia menyarankan masyarakat untuk melakukan menguras temat-tempat penampungan air sekali seminggu, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan mengubur barang bekas.

Selain hal itu, katanya, masyarakat agar memperbaiki saluran air yang tidak lancar atau rusak, melakukan gotong-royong massal setiap desa atau kelurahan serta upaya lain untuk mencegah DBD. (h/tri/hel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 45 = 52