Inflasi Sumbar pada April terkendali

Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono. (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (Antaranews Sumbar) – Bank Indonesia perwakilan Sumatera Barat menilai inflasi Sumbar pada April 2018 cukup terkendali dengan angka 0,02 persen atau turun dibandingkan Maret yang berada pada posisi 0,31 persen.

“Secara disagregasi, tekanan inflasi April 2018 berasal dari kenaikan harga rokok putih dan BBM nonsubsidi,” kata Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono di Padang, Jumat.

Ia menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya pertalite dan solar nonsubsidi, serta terbatasnya persediaan premium di daerah disinyalir menjadi penyebab inflasi.

Selain itu naiknya harga rokok putih disebabkan penyesuaian harga gradual yang dilakukan penjual untuk mengakomodasi kenaikan tarif cukai rokok tahun 2018 juga mempengaruhi inflasi Sumbar, kata dia.

Pada kelompok pangan kenaikan harga bawang merah terjadi akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra bawang Alahan Panjang, Kabupaten Solok, sehingga distributor mendatangkan stok dari luar daerah, lanjutnya.

Mencermati perkembangan indeks harga konsumen Sumatera Barat ia mengingatkan perlu dilakukan antisipasi karena tekanan inflasi yang lebih tinggi akan terjadi pada Mei 2018.

Penyebab tekanan inflasi terindikasi disebabkan meningkatnya permintaan di bulan Ramadhan, serta kemungkinan masih adanya dampak lanjutan dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi, kata dia.

Kemudian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, serta kemungkinan naiknya harga emas dan minyak dunia akibat turbulensi politik maupun kecenderungan ketidakpastian ekonomi global berpotensi turut memberikan tekanan pada inflasi di bulan Mei 2018.

Akan tetapi curah hujan yang mulai berkurang dibandingkan bulan sebelumnya diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen dan gangguan distribusi bahan pangan strategis dari produsen ke konsumen, ujarnya.

Endy menambahkan pihaknya juga mengimbau kepala daerah untuk mengantisipasi meningkatnya tekanan inflasi pada Ramadhan dan perayaan Idul Fitri 2018.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah untuk menjamin kecukupan pasokan bahan pangan strategis daerah.

Upaya lainnya adalah mengelola ekspektasi positif masyarakat melalui intensitas komunikasi kepada masyarakat khususnya informasi harga dan ketersediaan barang melalui media, serta imbauan agar bijak dalam berbelanja saat Ramadhan dan perayaan Idul Fitri, kata dia.

Sebelumnya Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno meminta bupati dan wali kota di daerah itu lebih peduli terhadap inflasi dan tidak membiarkan begitu saja faktor-faktor yang dapat memicunya.

“Ketika harga pangan naik tak menentu, masyarakat tidak mampu beli, itu terjadi karena kepala daerah tidak peduli dan membiarkan saja, untuk mengatasi inflasi itu harus bersama-sama, kata Irwan.

Ia meminta kepala daerah selalu menindaklanjuti setiap hasil pertemuan Tim Pengendali Inflasi Daerah karena tujuannya adalah untuk kebaikan masyarakat.

“Pemimpin harus peduli soal ini, jangan sampai autopilot, jalan sendiri tanpa terasa ada kehadiran kepala daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan pengendalian inflasi membuat masyarakat nyaman juga bertujuan menciptakan iklim investasi yang kondusif karena harga-harga stabil sehingga pemilik modal bisa memperkirakan kapan uangnya kembali. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 30 = 32