Harimau Masuk Permukiman Warga di Pauh Padang

Masyarakat Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang diresahkan oleh kemunculan harimau sejak Ahad (12/8).

Masyarakat Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang diresahkan oleh kemunculan harimau sejak Ahad (12/8).

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Masyarakat yang tinggal di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat diresahkan oleh kemunculan harimau sejak sepekan belakangan. Sejumlah warga mengaku melihat dengan mata telanjang keberadaan harimau yang melintasi di jalan kampung. Meski tidak menyerang warga, harimau yang diperkirakan berjumlah dua ekor tersebut memangsa tiga ekor kambing, satu ekor monyet, dan dua ekor itik.

“Bahkan orang pulang dari kebun sempat meninggalkan barangnya mau lari. Nah, harimaunya itu tidak takut dengan manusia, tidak ada malunya gitu. Ini enggak takut dia malah memamerkan tubuhnya,” kata Abdul Rahman selaku Ketua RT 04 RW 03 Lambung Bukit, Pauh, Kota Padang, Kamis (16/8).

Kemunculan harimau membuat aktivitas sekitar 20 kepala keluarga (KK) warga yang tinggal di atas bukit juga terganggu. Beberapa hari ini misalnya, anak-anak tidak berani beranjak turun bukit menuju sekolah. Alasannya, kemunculan harimau relatif dekat dengan permukiman warga. “Apalagi itu ada dua ekor kayaknya, satu agak kecil satunya lagi lebih besar,” ujar Abdul.

Menyusul kemunculan harimau ini, masyarakat setempat mencoba melakukan sejumlah usaha untuk mengusir hewan buas tersebut. Salah satunya dengan merobohkan sebuah pondok kayu yang dibangun di atas tebangan pohon. Abdul menceritakan, masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa membangun pondok di atas bekas tebangan pohon adalah tindakan yang tidak diperkenankan. “Kayu yang sudah ditebang kan duduk saja ndak boleh, ini dibangun pondok di atasnya. Dirobohkan. Ini pantangannya,” kata Abdul.

Abdul mengaku baru kali ini mengalami kemunculan harimau yang turun di area permukiman. Sejak kecil, ia mengaku, sesepuh di kampungnya sudah mengatakan bahwa masih banyak harimau yang tinggal di kawasan hutan di Pauh. Meski begitu, harimau tak pernah turun ke permukiman warga sebelumnya.

Sementara itu, Kasat Polhut KSDA Sumbar, Zulmi Gusrul, menyebutkan bahwa pihaknya belum memutuskan tindakan penangkapan. Pihaknya memilih untuk mengikuti langkah pengusiran yang dilakukan masyarakat setempat berdasarkan kearifan lokal.

Ia menjelaskan, kawasan Batu Busuk di Pauh memang merupakan area perlintasan harimau. Meski begitu ia belum bisa memastikan berapa harimau yang saat ini berada di kawasan hutan yang berada di sisi timur Kota Padang ini.

“Empat hari sudah kami pantau dan belum kami lihat langsung. Bisa jadi karena ini musim panas dan makannya tidak ada di hutan dan nampak di bawah. Ternak cukup banyak di bawah sehingga dia terpancing,” katanya.

Pihak Polhut KSDA rencananya akan melanjutkan pemantauan pada Kamis (16/8) sore dengan menggunakan peralatan yang lebih lengkap. Sejak beberapa hari lalu, tim dari Polhut KSDA sudah berupaya mengusir harimau dengan menciptakan bunyi-bunyian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

67 − 61 =