Harga Gambir di Limapuluh Kota Anjlok

Harga Gambir di Limapuluh Kota Anjlok

Penimbangan Gambir di Pasar tradisional Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota.

LIMAPULUH KOTA – Harga gambir di kabupaten Limapuluh Kota megalami penurunan signifikan. Penurunan harga komuditi tersebut terjadi sejak sebulan terakhir. Harga pada saat ini Rp.30 ribu/kilogram, diakui masyarakat petani gambir, ini merupakan harga terburuk yang mereka alami. Hal itu dikatakan Andri Yasmen Camat Kapur XI, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (3/4).

“Di dua tahun terakhir, ini merupakan harga paling rendah untuk penjualan hasil produksi petani gambir khususnya di kecamatan kapur IX,” kata Andri Yasmen.

Disebutkan Andri, sebagai salahsatu daerah penghasil gambir di Kabupaten Limapuluh Kota, pada tahun lalu harga gambir juga mengalami penurunan namun tidak sampai level rendah. Hal itu berdampak kurangnya daya beli masyarakat di beberapa pasar tradisional maupun moderen.

“Kalau harga Gambir turun jelas berdampak kepada daya beli masyarakat petani. Apalagi menjelang ramadhan dan lebaran, biasanya daya beli tinggi, tetapi karena harga gambir murah maka daya beli akan menjadi rendah,” sebutnya.

Ditambahkan, mayoritas masyarakat di Kapur IX berfrofesi sebagai petani gambir dan karet. Tidak jauh berbeda dengan harga gambir, petani karet juga mengalami hal yang sama. Hasil produksi karet bercokol di harga Rp.7.000/Kilogram. Pada bulan Januari-Februari 2018 lalu harga Gambir masih berkisar 45-50 ribu perkilogram. Herannya, memasuki bulan Maret, harga gambir sampai awal April ini terus mengalami penurunan.

“Untuk harga karet, pada dua tahun terakhir berkisar di Rp.7.000/ kilogram. Mudah-mudahan harga ini tidak turun lagi, karena kalau masih turun jelas berimbas kepada sirkulasi ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Disamping, tanaman bernilai ekspor lainnya seperti Pinang, Coklat dan Kulit Manis.

Kemudian, harga Gambir sangat dominan mempengaruhi tingkat peredaran uang dan daya beli di tengah-tengah masyarakat Kapur IX bahkan Lima Puluh Kota. Bila harga gambir mahal, disampaikan Andri Yasmen, daya beli akan tinggi dan masyarakat akan berbelanja diberbagai tempat tidak terkecuali di pasar Payakumbuh.

“Kalau peredaran uang tinggi maka daya beli masyarakat juga tinggi. Warung-warung dikampung termasuk pasar tradisional ramai. Bahkan masyarakat juga berbelanja sampai di Pasar Payakumbuh bahkan Bukittinggi, maka dampak perekonomian dengan harga gambir ini cukup luas,” pungkas Andri. (Rino)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

56 − = 54