Gunung Sinabung Meletus Saat Natal

 

Medan – Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), kembali meletus di hari kedua perayaan Natal. Tidak ada korban jiwa namun awan panas maupun debu vulkanik itu dilaporkan merusak ratusan hektar lahan pertanian di sana.

Abu vulkanik hasil erupsi gunung merapi dengan ketinggian 2.460 meter, yang aktif sejak September 2010 lalu, juga mengguyur kota wisata di Berastagi di kabupaten tersebut. Sebagian masyarakat terpaksa menggunakan masker.

“Kita mengimbau kepada masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Tanah Karo supaya ekstra hati – hati saat mengendarai mobil maupun sepeda motor,” ujar Kepala Pos Pemantau Gunung Sinabung, Armen Putra, Selasa (26/12).

Armen mengatakan, abu vulkanik yang mengguyur kota wisata itu tidak begitu tebal. Namun, jika tidak diantisipasi maka abu vulkanik itu jika dihirup tentunya membahayakan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menghirup abu vulkanik tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Karo, Natanel Perangin-angin menyampaikan, pemerintah tetap mengantisipasi erupsi susulan meski gunung merapi itu sudah berulangkali erupsi di jauh hari sebelumnya.

“Kita meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas dan menjauh dari zona berbahaya. Ini perlu diantisipasi agar tidak ada lagi korban jiwa. Kami juga tetap melakukan koordinasi dengan TNI dan polisi untuk mengantisipasi adanya erupsi lebih besar,” sebutnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari posko penanganan bencana, masih ada ribuan masyarakat yang mengungsi karena tingginya aktivitas Gunung Sinabung tersebut. Para pengungsi tinggal di posko pengungsian di kawasan Berastagi.

Sementara itu, Ketua Pendiri Lembaga Kesehatan Awalindo mengharapkan, pemerintah memperhatikan kondisi kesehatan pengungsi akibat abu vulkanik hasil erupsi Gunung Sinabung.

Roder mengatakan, tidak sedikit dari pengungsi Gunung Sinabung tersebut yang menderita gangguan pernafasan. Bahkan, banyak pengungsi yang mengalami batuk – batuk.

“Lebih baik pemerintah memaksimalkan tim medis yang khusus penanganan penyakit dalam seperti paru-paru. Infeksi saluran pernafasan juga dikhawatirkan terjadi,” katanya.

Menurutnya, tidak banyak pengungsi di sana yang menggunakan masker. Kondisi ini yang dikhawatirkan sebagai penyebab banyaknya pengungsi yang terserang berbagai penyakit.

“Jika tidak diantisipasi maka bencana ini justru lebih besar lagi. Debu vulkanik yang dihirup masyarakat di sana mengandungsilica yang menyerupai kaca,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 5 = 1