Gubernur BI Ungkap Langkah BI Stabilkan Rupiah

image_title

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo

VIVA – Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo memastikan, Bank Indonesia tidak akan ragu untuk melakukan penyesuaian suku bunga acuan BI-7-day Reverse Repo Rate, demi menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang terus tertekan belakangan ini.

Dia mengatakan, hal tersebut ditujukan juga untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makro ekonomi nasional tetap terjaga, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini sudah tembus Rp14.000 per dolar AS.

“Bank Indonesia tengah mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas dan akan dilakukan secara konsisten, termasuk melalui penyesuaian suku bunga kebijakan 7-day Reverse Repo Rate, dengan lebih memprioritaskan pada stabilisasi, untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makro ekonomi nasional tetap terjaga,” ujar Agus melalui keterangan resminya yang dikutip, Kamis 10 Mei 2018.

Dia menambahkan, selain itu, Bank Indonesia juga telah menempuh langkah-langkah lainnya dalam menghadapi perkembangan nilai tukar tersebut, di antaranya terus melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan Rupiah.

“Termasuk, membuka lelang Forex Swap untuk menjaga ketersediaan likuditas rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang, untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terkelola dengan baik,” ucapnya.

Meski demikian, Agus kembali menegaskan, pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak dari menguatnya dolar AS secara berskala luas (broadbased) terhadap seluruh mata uang, sehubungan dengan semakin solidnya ekonomi AS, di tengah lambatnya pemulihan ekonomi di berbagai kawasan.

Hal itu, menurutnya, dapat dilihat dari perkembangan persentase rasio nilai tukar rupiah maupun negara-negara lain terhadap dolar AS, di mana nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) per 8 Mei 2018, melemah 3,44 persen, sedangkan peso Filipina melemah 3,72 persen, rupee India 4,76 persen, real Brasil 6,83 persen, rubel Rusia 8,93 persen, dan lira Turki 11,51 persen.

“Indonesia telah mengalami beberapa tekanan yang cukup besar seperti saat ini, dalam lima tahun terakhir sejak Bank Sentral AS melakukan program tapering offdi tahun 2013. Bank Indonesia meyakini bahwa Indonesia juga akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dengan perekonomian yang tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil,” tegasnya.

Dia juga menyebutkan, meski Indonesia tengah dilanda tekanan nilai tukar yang cukup besar, kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berlanjut, tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB kuartal IV 2017, serta pertumbuhan PDB kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen (yoy), yang tetap stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik.

Kemudian, menurut Agus, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2018 tersebut, juga merupakan capaian tertinggi di pola musiman kuartal I sejak 2015. Permintaan domestik yang meningkat pada kuartal I 2018, juga dikatakannya, didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5 persen +/- 1 persen.

Sebagai informasi, mengutip kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada kemarin, Rabu 9 Mei 2018, diperdagangkan antar bank di angka Rp14.074 per dolar AS, atau melemah dibanding hari sebelumnya, Selasa 8 Mei 2018, di level Rp14.036. per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

70 − 60 =