Gagal Kerja karena Ogah Salaman Lawan Jenis, Muslimah Ini Menang Gugatan

Gagal Kerja karena Ogah Salaman Lawan Jenis, Muslimah Ini Menang GugatanFarah Alhajeh, 24, seorang muslimah di Swedia menang gugatan senilai Rp63,5 juta. Dia menggugat perusahaan yang menolak tes wawancara kerja karena dia menolak salaman dengan pria. Foto/BBC

 

 

 

 

UPPSALA – Farah Alhajeh, 24, seorang muslimah di Kota Uppsalla, Swedia, ditolak wawancara untuk tes melamar kerja di sebuah perusahaan karena menolak salaman dengan pewawancara pria. Dia menggugat perusahaan tersebut sebesar 40.000 krona (Rp63,5) dan memenangkannya.

Perempuan ini hendak tes wawancara sebagai penerjemah di perusahaan kota setempat. Dia menolak salaman dengan pengujinya, seorang pria, karena alasan agama. Dia hanya bisa meletakkan tangannya di depan dada sebagai ganti jabat tangan langsung dengan lawan jenis.

Perusahaan di bidang penerjemah itu akhirnya membatalkan tes wawancara untuk Alhajeh. Dia lantas dikawal keluar dari kantor tersebut.

“Begitu saya masuk lift, saya mulai menangis,” katanya kepada surat kabar Swedia SVT, tanpa merinci tanggal kejadian tersebut. “Itu tidak pernah terjadi pada saya sebelumnya, itu tidak terasa baik sama sekali. Itu mengerikan,” lanjut Alhajeh, yang dilansir Jumat (17/8/2018).

Alhajeh melaporkan kejadian tersebut ke ombudsman Swedia karena merasa jadi korban diskriminasi. Dia selanjutnya menggugat perusahaan yang tak disebut namanya itu ke pengadian tenaga kerja.

Dalam sidang, Alhajeh memenangkan gugatan pada pekan ini. Perusahaan tersebut diperintahkan membayar kompensasi 40.000 krona.

“Uang itu tidak pernah penting,” katanya kepada SVT. “Itu tidak penting sama sekali. Yang penting bagi saya adalah itu benar.”

Pihak perusahaan berpendapat bahwa mereka memiliki kewajiban untuk memperlakukan semua orang secara setara dan tidak dapat mengizinkan seorang anggota staf menolak jabat tangan berdasarkan gender.

Namun, pengadilan menyatakan hak menolak jabat tangan karena alasan agama oleh Alhajeh dilindungi oleh Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia.

Ombudsman menyatakan, keputusan tersebut mempertimbangkan kepentingan pengusaha, hak individu untuk integritas tubuh, dan pentingnya negara untuk mempertahankan perlindungan untuk kebebasan beragama.

Alhajeh mengatakan kepada BBC dia percaya prinsipnya itu penting untuk “tidak pernah menyerah”. “Saya beriman pada Tuhan, yang sangat langka di Swedia…dan saya harus bisa melakukan itu dan diterima selama saya tidak menyakiti siapa pun,” katanya.

“Di negara saya, Anda tidak dapat memperlakukan wanita dan pria secara berbeda. Saya menghargai itu. Itu sebabnya saya tidak punya kontak fisik dengan pria atau wanita. Saya bisa hidup dengan aturan agama saya dan juga pada saat yang sama mengikuti aturan negara tempat saya tinggal.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

27 − 26 =