Dubes RI Tak Mau Indonesia Jadi ‘Sleeping Beauty’ buat Jerman

Dubes RI Tak Mau Indonesia Jadi 'Sleeping Beauty' buat Jerman
Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier di Istana Bellevue, Selasa (8/5). (Dok. KBRI Berlin)

 

 

 

Jakarta, CNN Indonesia — Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menyatakan banyak potensi kerja sama dengan negara berekonomi terbesar di Eropa itu belum tergali. Havas pun menganalogikan besarnya potensi Indonesia itu sebagai kisah dongeng ‘Sleeping Beauty’.

“Kita tidak mau Indonesia jadi ‘Sleeping Beauty’ buat Jerman. Kita sama-sama negara G-20, Jerman negara terbesar di Eropa, kita terbesar di Asia Tenggara,” kata Havas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (9/5). Sehari seusai memberikan surat kepercayaan kepada Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier di Istana Bellevue.

Bentuk kerja sama yang akan dibidik antara lain peningkatan level kerja sama di bidang pertahanan, maritim, industri komponen kapal dan pesawat.


Selain itu, mantan Dubes RI untuk Belgia, Uni Eropa dan Luksemburg itu juga akan menggagas beasiswa interfaith, seperti yang pernah dia buat saat berada di Brussels.

Mantan Deputi Kedaulatan Maritim, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman RI itu juga berencana meningkatkan beasiswa bagi warga Jerman yang ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia.

“Saat ini penerima hanya 18, kita akan tingkatkan menjadi 50 orang,” kata Havas, sambil menyebut besarnya antusiasme warga Jerman untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. “Yang mendaftar puluhan, sekitar 70-an,” kata dia.

Program beasiswa budaya dan bahasa Indonesia itu telah diadakan KBRI Berlin sejak era 1980-an. Havas juga berencana untuk mengorganisir para alumni yang jumlahnya telah mencapai ratusan. “Sampai sekarang belum ada yang mengorganisir,” kata Havas menyebut potensi para alumni tersebut untuk meningkatkan pemahaman tentang Indonesia di Jerman.

Havas menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Steinmeier hanya 18 hari setelah tiba di Jerman, yakni pada 19 April 2018.

Selain menerima Surat Kepercayaan, Presiden Steimeier juga mengundang Duta Besar RI untuk bertemu empat mata membahas perkembangan kedua negara serta berbagai upaya dalam peningkatan kerjasama bilateral.

“Jerman dan Indonesia memiliki berbagai elemen kerjasama yang perlu dikembangkan secara komprehensif di masa mendatang, termasuk pengembangan Industrie 4.0,” kata Presiden Steinmeier lewat rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).

Steinmeier pernah mengunjungi Indonesia pada 2 November 2014 dalam kapasitasnya sebagai Menteri Luar Negeri.

Pertemuan juga membahas hal-hal penting yang menyangkut kedua negara, yaitu kerjasama ekonomi dan peningkatan investasi, serta kerjasama vokasi, yang juga mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo.

Dalam kesempatan disampaikan juga mengenai rencana penyelenggaraan Konferensi Bisnis dan Industri Jerman untuk Kawasan Asia Pasifik di Jakarta pada November 2018.

Saat bertemu Steinmeier, Dubes RI menyatakan keinginannya untuk mengembangkan hubungan Indonesia-Jerman. “Saya ingin mengembangkan hubungan Indonesia-Jerman yang mencerminkan fakta bahwa Jerman adalah negara paling kuat di Eropa dari segi ekonomi, dan Indonesia sebagai negara yang paling besar di Asia Tenggara, dan fakta bahwa keduanya adalah negara G-20,” kata Havas.

Duta Besar Arif Havas Oegroseno memulai karirnya sebagai diplomat pada tahun 1986, anggota Asia Society of International Law, dan ahli Hukum Laut Internasional.

Sebelum menjadi Duta Besar LBBP RI untuk Republik Federal Jerman, Duta Besar Oegroseno bertugas sebagai Deputi Kedaulatan di Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman. Pada tahun 2010 – 2015 Duta Besar Oegroseno menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 1 =