Dilarang Berjualan, Pria Ini Nekat Bakar Istana Siak

Borgol. Ilustrasi.

PEKANBARU — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Irjen Nandang menyatakan, motif tersangka pembakar Istana Siak adalah karena sakit hati. Tersangka diketahui merupakan anggota keluarga pewaris Kesultanan Siak Sri Indrapura.

“Karena kecewa, dia melakukan pembakaran,” kata Nandang di Pekanbaru, Rabu (10/1).

Nandang membenarkan bahwa tersangka, yang berusia 41 tahun itu, diketahui merupakan salah seorang anggota keluarga pewaris Kesultanan Siak Sri Indrapura. Tersangka selama ini diketahui berjualan pada salah satu kios di komplek Istana Siak. Kekecewaan itu, kata Nandang, disebabkan pelaku yang bernama legkap Tengku Said Abdullah alias Faisal, dilarang berjualan di salah satu kios komplek Istana Siak.

“Tadinya (Faisal) jualan di belakang Istana Siak. Ada kios, dan sekarang dilarang sehingga dia kecewa,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan Faisal ditangkap di salah satu tempat di Kabupaten Siak. Penangkapan itu merupakan hasil penyelidikan antara Kepolisian Daerah Riau dan Polres Siak. “Ditangkap di Siak, sekarang dibawa ke Pekanbaru,” ucapnya.

Upaya pembakaran Istana Siak terjadi pada Senin awal pekan ini. Beruntung upaya pembakaran cepat diketahui petugas sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat. Hanya saja, akibat upaya pembakaran itu diketahui menyebabkan sejumlah ornamen rusak. Diantaranya adalah Diorama serta Tirai peninggalan bersejarah.

Istana Siak Sri Indrapura atau disebut juga “Istana Matahari Timur”, merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893.

Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari empat istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe. Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.

Istana Siak memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang, ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta.

Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana.

Sementara pada halaman istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara.

Sumber : Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

42 + = 46