Bikin Merinding, Suara Lirih dan Batuk di Reruntuhan Masjid Lombok

image_title

Proses pencarian korban longsor yang terimbun banguanan Masjid Jamiul Jamaah.

VIVA – Cerita evakuasi korban gempa yang tertimbun reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah, Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, membuat merinding.

Saat gempa 7,0 Skala Richter mengguncang Lombok, ada seratusan lebih jemaah sedang menuntaskan pengajian dan salat Isya di masjid tersebut. Masjid dua lantai itu rata dengan tanah.

Sebagian jemaah sempat melarikan diri dan terhindar dari reruntuhan bangunan masjid. Tapi masih ada puluhan jemaah yang terjebak di dalamnya. Sekian menit gempa berhenti, teriakan minta tolong bersahutan. Suaranya lirih, samar, namun tetap terdengar.

Dalam kondisi gelap gulita, beberapa warga setempat segera mencari sumber suara untuk melakukan pertolongan. Hudri (32), salah satu saksi mata mengatakan, ia bersama beberapa warga berhasil menyelamatkan tujuh orang dari dalam runtuhan.

“Tapi satu nyawa, seorang yang kami kenal betul, Pak Ahmad, wafat ketika kami evakuasi ke posko pengungsian,” kata Hudri.

Setelah kejadian gempa besar, tak pernah ada yang tahu berapa jumlah pasti yang masih terjebak di dalam bangunan masjid yang roboh. Sandal-sandal berdebu yang ditinggalkan pemiliknya menjadi bukti. Saat gempa besar mengguncang ada banyak jemaah di dalam masjid.

Satu nama yang diingat Hudri, Inak Salmah (60) yang diduga kuat masih tertimbun di dalam masjid. Posisinya ada di sisi depan masjid dekat pintu masuk sebelah kanan.

Dugaan lainnya, lebih pilu lagi, masih ada sekitar lima korban yang belum diketahui nasibnya. Kemungkinan besar mereka masih tertimbun di dalam puing-puing beton masjid. Kondisinya tidak diketahui.

Suara Batuk di Dalam Reruntuhan

Proses evakuasi dikerjakan sejak hari pertama hingga. Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap (ACT) ikut berjibaku mencari korban di balik reruntuhan masjid Jamiul Jamaah. Lokasi masjid ini juga dekat sekali dengan rumah Lalu Muhammad Zohri, juara dunia sprinter 100 meter asal Kecamatan Pemenang.

Malam nahas itu, salah satu saksi mata, Hudri (32) mengatakan, dari lima korban yang tertimbun di dalam, masih ada satu yang hidup. Diduga kuat itu adalah Inak Salmah. Fathul Azim, salah satu relawan ACT yang memimpin operasi evakuasi mengatakan, ia masih mendengar suara lirih dan batuk.

“Kami di atas runtuhan memanggil nama, dibalas dengan suara lirih dan batuk. Suara batuk ini membuktikan laporan masyarakat yang masih mendengar ada suara minta tolong di dalam runtuhan sejak Senin dan Selasa kemarin,” ujar Azim.

Siang hingga menjelang gelap, proses evakuasi dikebut dengan menggunakan beko. Sumber suara batuk menjadi patokan proses pencarian.

Runtuhan beton dua lantai dipinggirkan satu per satu. Azim, membantu pengemudi beko mengawal proses penggalian material bangunan masjid.

“Sangat sulit. Masjid dua lantai ini makin padat ke bawah. Satu-satunya cara, lubang bekas kubah kita gali. Kita lakukan pemotongan besi. Kita menembus titik diduga posisi terakhir korban, kemungkinan adalah perempuan berusia sekitar 40-60 tahun,” ujar Azim.

Namun sampai hari gelap, tidak ada tanda-tanda tubuh yang terlihat dalam reruntuhan. Proses evakuasi dihentikan sementara untuk dilanjutkan Rabu pagi, 8 Agustus 2018.

“Kami sudah berusaha sampai menjelang gelap. Tapi posisi korban terdekat yang masih terdengar suara batuk tetap tidak ditemukan. Kami akan melanjutkan evakuasi penuh Rabu pagi hingga sore,” kata Azim.

Sosok Azim, yang ikut ambil bagian dalam proses evakuasi rupanya juga memendam cerita pilu. Azim adalah anak asli Sengiggi, Lombok. Sehari-hari menetap di Yogyakarta sebagai pelajar juga komandan Disaster Emergency Response ACT Yogyakarta.

“Rumah saya juga kena gempa. Saya pulang kampung ke Lombok. Tapi rumah juga sudah hancur rata dengan tanah di Senggigi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

50 + = 55