Berfoto di Depan Kasino, DPRD 50 Kota Minta Maaf

Berfoto di Depan Kasino, DPRD 50 Kota Minta Maaf
Anggota DPRD 50 Kota berpose sambil memperlihatkan uang dolar di depan Casino di Singapura, IST

 

 

 

LIMAPULUH KOTA, HARIANHALUAN.COM – Foto belasan anggota DPRD Limapuluh Kota di depan rumah perjudian (kasino-red), Singapura, mendapat respon negatif masyarakat dan viral di media sosial. Menyadari tidak etisnya foto, para wakil rakyat akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat.

Permohonan maaf tersebut, disampaikan pimpinan DPRD dihadapan sejumlah awak media, Selasa (6/3) siang di gedung dewan setempat.

“Secara lembaga, kami minta maaf. Tidak ada maksud apapun terkait foto di depan kasino itu,” terang Safaruddin, Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota didampingi Deni Asra, wakil pimpinan serta sejumlah pejabat di lingkungan Sekretariat DPRD Limapuluh Kota.

Safaruddin yang juga Ketua DPD Partai Golkar Limapuluh Kota merinci kronologis keberadaan mereka di depan pusat judi terbesar negara singa tersebut.

Dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus) yang digelar pada pertengahan Februari lalu, kita sudah menjadwalkan akan melakukan kunjungan kerja komisi-komisi DPRD Batam selama sepekan, dari 19 sampai 23 Februari,” ucap Safaruddin.

Dalam jadwal, 35 anggota DPRD Limapuluh Kota akan mendatangi Balaikota dan DPRD Batam, serta kunjungan lapangan ke berbagai tempat.

“Kunjungan kerja tidak ada keluar negeri. Tetapi, dari jadwal yang telah ditetapkan itu ada waktu luang sehari. Waktu luang itu yang dimanfaatkan rekan-rekan DPRD mengunjungi Singapura,” tuturnya.

Kunjungan ke Singapura bukan ditanggung oleh dana pemerintah, melainkan dana pribadi masing-masing anggota DPRD. Tidak seluruh anggota dewan yang ikut ke Singapura. Hanya 16 orang yang berangkat. “Kebetulan, kawan-kawan baru sekali itu ke Singapura. Siang ke sana, sorenya sudah kembali lagi ke Batam,” kata Safaruddin.

Kurang lebih 10 jam di Singapura, rombongan anggota dewan yang terbagi 2 tim tersebut, sempat mendatangi sejumlah tempat dan berfoto di sana, termasuk di depan kasino.

“Sebelum ke Singapura, kami sempat menukarkan rupiah ke dollar Singapura sebagai biaya pembelanjaan. Ada yang menukarkan dari Rp700 ribu sampai Rp1 juta. Uang ini yang kami pegang saat berfoto di depan kasino,” terangnya.

Sekitar pukul 17.00 WIB, rombongan kembali lagi Batam menggunakan kapal penyeberangan dari Singapura.

“Di kasino kami hanya berfoto. Kami tidak pernah masuk ke sana, apalagi main judi. Cuma berfoto saja. Foto di depan kasino  tersebut sempat diposting oleh seorang anggota dewan di akun Instagramnya dan akhirnya menjadi viral,” terang Safaruddin lagi.

Sejak foto viral, masyarakat banyak yang menganggap apa yang dilakukan DPRD tidak etis. Berbagai tudingan mengarah ke lembaga legislatif itu. Karena itu, DPRD sendiri mengakui salah dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat.

“Kami salah dan kami minta maaf,” kata Safaruddin.

Pakar Sosiologi Sistem Politik dan Birokrasi Universitas Andalas (Unand) Bob Alfiandi menilai, perilaku anggota DPRD Limapuluh Kota membuktikan kebenaran asumsi teori elit, bahwa tingkat kepedulian elit politik terhadap masyarakat hanya meningkat saat tahun politik berlangsung. Menurut Bob, setelah tahun politik usai dan seseorang menjadi elit dengan menduduki kursi politik tertentu seperti kursi legislatif, maka perhatian lebih banyak tercurah pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bersifat parsial (sebagian) atau kelompok.

“Bukti kekurangpedulian elit itu jelas sekali dan sudah jadi rahasia umum. Pada anggota legislatif misalnya, elit itu peduli pada massa di tahun politik saja. Memang setelah terpilih itu, saat menyusun penganggaran, mereka mendahulukan anggaran Pokir (pokok pikiran) dan kepentingan Dapil (Daerah Pemilihan). Tapi setelah itu, mereka hanya memikirkan bagaimana balik modal saat pencalonan tercapai. Itu rahasia umum,” kata Bob.

Mendahulukan anggaran pokir dan kepentingan dapil itu pun, lanjutnya, juga berorientasi terhadap upaya menjaga basis suara, sehingga dapat disebut sebagai kebutuhan bersifat parsial.

“Kalau anggota dewan itu dapat dikatakan elit, ya jelas pedulinya ada, saat lagi butuh saja,” tegasnya lagi.

Bob juga menilai, sebagian masyarakat justru merasa heran saat munculnya anggota dewan yang betul-betul peduli terhadap masyarakat selama rentang menjabat sebagai wakil rakyat. Sehingga, jika ada tingkah laku anggota dewan yang di luar kewajaran dan dipertontonkan ke khalayak, dalam sudut pandang sosiologis hal itu adalah kewajaran belaka, karena memang begitu realitas yang terjadi.

Namun demikian, Bob juga mengingatkan, bahwa tingkah laku di luar kewajaran para elit politik akan berdampak besar terhadap berubahnya sikap masyarakat selaku pemilih. Untuk memutuskan kembali memilih atau tidak memilih orang yang sama, yang terlanjur dianggap mengecewakan, dan tidak melaksanakan tugas sesuai dengan harapan masyarakat.

“Kalau masyarakat tetap memilih dan oknum tertentu yang mengecewakan itu kembali terpilih, yang patut dipertanyakan apakah masyarakat memilih karena memang mereka ingin memilih, atau karena tidak ada pilihan lain selain memilih, sehingga mereka diharuskan memilih. Jawaban atas pertanyaan ini pun sudah jadi jawaban umum,” sambungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 38 = 42