Anne Avantie Sampaikan Maaf Terkait Kreasi Suntiang Minang

Anne Avantie

Anne Avantie

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Perancang busana papan atas Indonesia, Anne Avantie, menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Minangkabau terkait kreasi suntiang Minang yang ia tampilkan dalam peragaan busana Indonesia Fashion Festival di Jakarta akhir Maret 2018. Anne meminta maaf karena kreasinya memantik protes masyarakat Minang.

Dalam peragaan busana tersebut, penutup kepala yang menyerupai suntiang Minang memang dipadukan dengan kebaya berpotongan terbuka yang diperagakan artis Sophia Latjuba.

“Sebagai orang yang memiliki tanggung jawab moral, saya Anne Avantie memohon untuk dibukakan pintu maaf kepada seluruh masyarakat Minangkabau dan yang terkait, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu,” ujar Anne dalam surat tertulis yang diterima Pemprov Sumbar, Senin (9/4).

Anne menegaskan niatnya untuk lebih memperhatikan aspek-aspek budaya saat mengkreasikan kebaya agar tidak memecah belah kerukunan dan kebersamaan serta kedamaian bangsa Indonesia. Ia berharap, tanggapan yang ia sampaikan dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya negeri sendiri.

Anne juga mengingatkan bahwa Indonesia masih membutuhkan kreativitas dan karya anak bangsa untuk membangun industri kewirausahaan. Melalui pelajaran yang ia petik kali ini, Anne terus ingin berjuang dan berkarya dalam industri yang ia geluti sekarang.

Dalam suratnya, Anne juga sempat menjelaskan kronologi penggunaan suntiang Minang dalam peragaan busana yang ditampilkan Sophia Latjuba tersebut. Ia menuturkan, beberapa jam sebelum pagelaran dimulai, pihaknya meminjam beberapa hiasan rambut, termasuk suntiang Sumatra Barat. Pada saat itu ia baru sebatas ingin melihat apakah hiasan rambut tersebut bisa dipisahkan dan dikolaborasikan dengan aksesoris lainnya. Itu pun, Anne menyebutkan, masih sebatas rencana.

Akan tetapi, kepadatan jadwal dan situasi di lapangan saat itu membuat Anne tak bisa mengawasi detail persiapan di belakang panggung. Apalagi Anne mengaku harus meninggalkan area belakang panggung untuk bersiap menyambut Ibu Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, Ibu Sinta Nuriah Wahid, dan Ibu Menteri Susi Pudjiastuti.

“Dalam kondisi itulah kemudian komunikasi terputus sehingga terjadi kekeliruan yang tidak seharusnya terjadi,” katanya.

Anne mengaku, pada saat itu ia sama sekali belum melihat bentuk kreasi yang akan dibawakan Sophia, bahkan belum memegang dan belum memerintahkan pemasangan suntiang Minang di kepala peragawati. Rencana awal yang digagas Anne, Sophia akan mengenakan gaun dengan aksen jubah batik dan dikreasikan dengan hiasan rambut lain dan bunga.

“Namun, semua telah terjadi dan saya tidak ingin menelusurinya satu per satu sehingga akan mengorbankan orang-orang lain yang telah menolong saya, bahkan pada akhirnya akan menjatuhkan serta menghancurkan nafkah hidup banyak orang,” kata Anne.

Ia mengaku tidak ingin menelusuri lebih jauh mengenai keputusan penggunaan suntiang Minang saat itu. Baginya yang terpenting adalah klarifikasi yang bisa meluruskan kembali situasi. Ia mengakui, kurangnya komunikasi antara dirinya dan yang terlibat sebagai pemasang suntiang tersebut seharusnya bisa dihindari. Apalagi, kata dia, dia menyadari bahwa baju yang dikenakan oleh model yang bersangkutan bukan selayak dan sepantasnya.

“Namun, sekali lagi ini semua sudah terjadi dan saya mohon maaf,” ujarnya.

Anne menyatakan bahwa kesalahan itu murni tanggung jawabnya. Ia mengaku, sejak awal niatnya adalah penyampaian rasa syukur atas penyertaan Tuhan selama 29 tahun berkarya untuk Indonesia.

Sebelumnya, kreasi suntiang Minang yang dibawakan Sophia Latjuba sempat mendapat protes dari masyarakat Minangkabau. Alasannya, suntiang Minang tidak bisa sembarangan dikreasikan dengan busana lainnya, apalagi busana yang cenderung tidak menutup aurat.

Ketua Penasihat Bundo Kanduang Sumatra Barat, Nevi Irwan Prayitno, mengaku prihatin dengan kreasi Anne Avantie tersebut. “Sebab, pakaian tradisi Minangkabau tidak boleh dicampur atau dikreasikan dengan bentuk apa pun. Karena setiap busana dari Minang telah berlandaskan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” kata Nevi Irwan Prayitno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

28 − = 24