Silek Art Festival, cara Sumbar lestarikan silat tradisi

Pesilat memeragakan atraksi “Silek Bagoluk Lunau”, di Nagari Ampangan Aur Kuning, Payakumbuh, Sumatera Barat, Sabtu (2/12). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/pras/17.

Padang, (Antaranews Sumbar) – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Silek Art Festival (SAF) pada 7 September hingga 30 November 2018 untuk membantu pelestarian budaya, termasuk silek sebagai seni beladiri khas Minangkabau.

“Ajang ini harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga kelestarian sekaligus menumbuhkembangkan budaya asli Minangkabau, khususnya, silek,” kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Padang, Senin.

Ia mengatakan itu terkait rencana pelaksanaan Silek Art Festival 2018 dengan melibatkan delapan kota dan kabupaten di provinsi itu masing-masing Kota Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, Sawahlunto, Payakumbuh, Kabupaten Tanah Datar, Pesisir Selatan, dan Padang Pariaman.

Menurutnya produk budaya dan kearifan lokal Sumbar, termasuk silek, satu-persatu mulai hilang seiring waktu. Khususnya silek, ia terus berkurang berbanding lurus dengan berkurangnya tuo-tuo silek (sesepuh silat).

Hal itu harus dicegah dengan melakukan upaya pelestarian diantaranya melalui dokumentasi produk-produk budaya yang dimiliki, memperagakan dan melakukan demonstrasi produk tersebut, lalu dipublikasikan

“Kita sudah terapkan upaya pelestarian ini terhadap pakaian adat Minangkabau. Kita sudah kumpulkan 200 lebih model pakaian dari yang katanya ada sekitar 800-an. Hal yang sama juga harus dilakukan pada produk budaya lain seperti silek.

Silek Art Festival dinilai menjadi salah satu upaya yang tepat untuk mendorong pelestarian silek Minangkabau.

Namun ia mengingatkan agar antara seniman dan budayawan dengan pemerintah daerah bisa bersinergi dalam mempersiakan even besar itu.

Perbedaan karakter antara birokrat dan seniman jangan dijadikan kendala dalam menyukseskan acara tersebut.

“Yang satu birokrat, cara kerjanya hitam-putih dan harus taat aturan. Tidak bisa inovasi aneh-aneh. Yang lain, seniman, kreatif, kalau kerja kan biasanya bebas, melalui proses kreatif yang tidak bisa dikungkung. Kalau nanti ada yang patut dibicarakan, saya harap keduanya berkoordinasi aktif dan saling berkomunikasi,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Gemala Ranti mengatakan Silek Art Festival merupakan salah satu dari 13 festival budaya yang diagendakan oleh Kemendikbud RI untuk di gelar tahun ini sebagai ajang untuk mengangkat keunikan budaya daerah di Indonesia

Tiga belas festival itu masing-masing Festival Fulan Fehan 3 Juli-Oktober 2018 dan Festival Foho Rai 3-27 Juli 2018, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Lalu Festival Budaya Saman, 4 September-24 November 2018, Gayo Lues, Aceh, International Gamelan Festival, 9-16 September 2018, Solo, Boyolali-Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten-Blora, Jawa Tengah.

Kemudian Bebunyian Sintuvu, 10 Agustus-Oktober 2018, Sigi-Poso-Parigi Moutong-Palu, Sulawesi Tengah, Festifal Seni Multatuli, 6-9 September 2018, Lebak, Banten.

Silek Arts Festival, 7 Sept-30 November 2018, Sumatera Barat, Festival Folklor Blora, 12-15 September 2018, Blora, Jawa Tengah.

Amboina International Bamboowind Music Festival, 23-27 Oktober 2018 Ambon, Maluku dan, Indonesia Weaving Festival, 14-17 Oktober 2018, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 3 = 3