64 BPR di Sumbar Kesulitan Modal Inti

64 BPR di Sumbar Kesulitan Modal IntiIlustrasi BPR. NET

 

 

 

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada akhir 2019 seluruh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diwajibkan memiliki modal inti minimum Rp3 miliar dan pada tahun 2024 sebanyak Rp6 Miliar.

Namun demikian dari 96 BPR di Sumbar, sebagian besar diantaranya yakni 64 BPR masih kesulitan untuk memenuhi ketentuan modal inti Rp3 Miliar yang dipersyaratkan.

“Sebagian besar atau sebanyak 64 BPR saat ini modalnya masih di bawah 3 miliar. Masih ada waktu sekitar 18 bulan lagi hingga akhir 2019 untuk BPR Memenuhi modal inti tersebut.

Kita sudah minta pada masing-masing pemegang saham. Kita Minta BPR mau secara terbuka berkomunikasi dengan OJK. Kalau tidak punya kemampuan untuk memenuhi, kami dorong untuk konsolidasi.

Melakukan merger, atau mencari sumber investasi baru untuk bisa memenuhi modal inti tersebut,” ujar Kepala OJK Perwakilan Sumbar Darwisman pada Haluan, kemarin.

Dikatakan Darwisman, kebijakan modal inti minimum tersebut sudah merupakan hasil kajian panjang OJK. Dengan modal Rp6 Miliar, BPR diyakini lebih punya kemampuan, ketahanan dan mampu tumbuh lebih cepat.

“Kalau modalnya kecil rentan dengan resiko kalau nantinya ada gejolak di sektor ril. Oleh karenanya kita dorong penyehatan BPR yang didukung pula oleh pemerintah,” tambah Darwisman lebih jauh.

Dikatakan Darwisman,  hingga saat ini aset BPR di Sumbar sebanyak Rp1,9 Triliun dengan jumlah pembiayaan yang disalurkan Rp1,32 Triliun.

Ia juga optimis rasio kredit bermasalah atau non performing loan/NPL BPR yang saat ini di kisaran 9 persen, bisa terus turun hingga di bawah 5 persen sesuai ketentuan OJK.

“Kita sudah evaluasi apa masalahnya, langkah konkrit yang dilakukan serta bagaiman langkah percepatan. Apakah restrukturisasi kredit, percepatan penagihan atau lelang.

Saya lihat trennya terus menurun. Target kita bisa secepatnya, setidaknya sampai akhir tahun ini NPL BPR bisa di bawah 5 persen seperti yang kita harapkan,” harapnya.

Menurutnya, penurunan NPL tidak bisa langsung seketika, karena mayoritas nasabah BPR adalah di sektor pertanian dan perdagangan yang rentan gelojak harga komoditas pertanian, seperti sawit dan karet.

Darwisman juga menyebutkan sejumlah BPR sudah mulai melakukan upaya merger agar tetap bertahan dan bersaing di industri perbankan. (h/ita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =