2018, Pemerintah Luncurkan Paket Kebijakan Ekonomi Manufaktur

2018, Pemerintah Luncurkan Paket Kebijakan Ekonomi Manufaktur            Menko Perekonomian Darmin Nasution 

 

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah berencana merilis paket kebijakan ekonomi pada tahun ini. Nantinya, kebijakan akan berfokus mendukung perkembangan sektor manufaktur.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan lebih rinci, pemerintah akan berfokus pada sektor manufaktur unggulan Indonesia agar investasi serta produksi manufaktur bisa memiliki keunggulan komparatif dan berdaya saing di masa mendatang.

Ia mencontohkan, selama ini pertumbuhan industri makanan dan minuman Indonesia memang cemerlang. Hanya saja, saat ini Indonesia tidak punya fokus ihwal jenis makanan dan minuman yang seharusnya diproduksi.

“Hal yang pasti, kami ingin perindustrian lebih tajam. Industri apa saja persisnya, jadi tidak terlalu umum. Makanan dan minuman misalnya, kami akan fokus ‘makanan dan minuman ini apa saja?’ Lalu juga di baja, jenis baja apa saja yang seharusnya diproduksi,” papar Darmin ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (3/1).

Ia berharap, kebijakan ini nantinya bisa diduetkan dengan sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (Online Single Submission) yang rencananya diluncurkan pada Maret tahun ini. Sekadar informasi, kebijakan online single submission ini juga merupakan buah dari paket kebijakan ekonomi jilid 16 yang diluncurkan akhir Agustus lalu.

Di dalam program online single submission ini, investor hanya tinggal mengunggah dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk berinvestasi. Setelah itu, investor bisa langsung merealisasikan investasinya. Jika masih terdapat hambatan, nantinya ada satuan tugas dari Kementerian dan Lembaga yang siap menyelesaikan keluhan dari investor.

Dengan demikian, lanjutnya, kombinasi dari permudahan perizinan dan penajaman industri ini diharapkan bisa aktif menggaet lebih banyak investasi sehingga ujung-ujungnya memperbaiki realisasi penanaman modal di Indonesia.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di kuartal III mencapai Rp513,2 triliun atau naik 13,18 triliun dibanding capaian tahun sebelumnya Rp453,4 triliun.

“Kalau perizinan dipermudah, industrinya dipertajam, setelah itu kami bicara dengan perbankan, harusnya (investasi) bisa jalan,” paparnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan non-migas hingga kuartal III mencatat pertumbuhan sebesar 5,49 persen. Dari seluruh sektor, pertumbuhan tertinggi masih disumbang dari industri makanan dan minuman dengan nilai 9,46 persen dan disusul oleh industri mesin dan perlengkapan sebesar 6,35 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 7 = 11