Viral, Tiga Mbah-mbah Ini Tinggal Satu Atap dan Sakit-sakitan

Viral, Tiga Mbah-mbah Ini Tinggal Satu Atap dan Sakit-sakitan

Ponorogo – Kehidupan tiga mbah-mbah di Ponorogo ini mendadak viral di medsos. Kondisinya yang sudah renta, pikun dan tidak mampu melakukan aktivitas, membuat warga Dusun Ngadirogo Wetan, Desa Blembem, Kecamatan Jambon, Ponorogo, ini hanya mengandalkan pemberian tetangga.

Beberapa masyarakat yang simpatik terhadap pasutri, Mbah Sukir (100), Mbah Brontok (110) dan Mbah Sarno (95) adik dari Mbah Brontok, memberikan bantuan bahan mentah seperti beras, mie instan dan telur. Namun, ketiganya juga tak mampu mengolah bahan bantuan tersebut.

Hanya bantuan roti dan air mineral yang langsung bisa dimakan. Bantuan-bantuan itu pun menumpuk di sudut gubuk reyotnya yang berukuran 8×6 meter. Rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu banyak sekali celah sehingga saat hujan deras, air pun dengan mudah masuk.

“Karena Mbah Sukir dan Brontok tidak punya keturunan dan Mbah Sarno tidak menikah, akhirnya ketiganya hidup seperti ini tidak ada yang merawat,” tutur Sugeng, salah satu perangkat desa kepada detikcom ke lokasi, Kamis (18/1/2018).

Ketiganya, jelas Sugeng, hidup dari belas kasihan tetangganya. Bahkan untuk menjaga ketiga mbah ini, warga secara bergantian setiap malam menunggu di depan rumah. “Berjaga kalau mbah butuh sesuatu,” jelasnya.

Ketiga mbah ini semula hidup layaknya masyarakat biasa. Mbah Sukir bertugas memelihara kambing, Mbah Brontok yang satu-satunya perempuan bertugas berjualan di pasar sekaligus memasak. Sedangkan Mbah Sarno bertugas sebagai petani bayam atau jagung.

Namun seiring bertambahnya waktu, ketiganya kini sudah tak mampu lagi bekerja. Bahkan untuk sekadar ke kamar mandi yang berada di luar rumah pun, mereka lebih memilih buang air kecil di dalam rumah.

“Kalau Mbah Brontok masih sehat, beliau yang masak. Karena sejak setahun terakhir mengeluh sakit, akhirnya sekarang hanya bisa terbaring,” ujarnya.

Tak pelak, bantuan yang diberikan warga dalam bentuk mentah seperti beras dan mie langsung disalurkan ke tetangganya untuk dimasak dan memberikan ke tiga mbah-mbah tersebut. “Biasanya siang dan sore dikasih jatah makan,” imbuhnya.

Namun Sugeng juga menyayangkan sejak beberapa hari terakhir viral, banyak yang memberikan bantuan. Harusnya saat datang melapor ke perangkat desa dan didata. “Agar bantuannya tepat sasaran, takutnya ada yang tidak beres,” tukasnya.

Dia berharap kepada masyarakat yang datang menolong ketiga mbah ini, melapor dulu ke perangkat desa. “Dan kalau mau memberi bahan makan mentah harus didata, kalau sekedar roti, gorengan atau makanan siap makan tidak masalah, kan bisa langsung dimakan sama mbah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

28 + = 36