Sauqi Sudah Bisa Menangis, Bantuan Mulai Mengalir

Sauqi Sudah Bisa Menangis, Bantuan Mulai MengalirSauqi Putra Dilan

 

 

 

PADANG, HARIANHALUAN.COM–Sauqi Putra Dylan, pasien balita asal Payakumbuh yang mengalami pembengkakan pada otak, masih menjalani pemeriksaan intensif dari tim dokter RSUP Dr. M. Djamil. Kekhawatiran keluarga atas tagihan biaya pengobatan Sauqi yang belum bisa menggunakan kartu BPJS karena keterlambatan pengurusan, sedikit berkurang karena donasi dari berbagai pihak mulai mengalir.

Kepada Haluan, Kiki Ayunda, tante sekaligus wali pasien Sauqi (ibu kandung Sauqi telah tiada sejak usia Sauqi 1,5 tahun) kepada Haluan di RSUP Dr. M. Djamil menyebutkan, saat ini pihak keluarga terus mendapatkan dukungan dari masyarakat untuk kesembuhan Sauqi. Ia pun berterima kasih atas bantuan dan dukungan yang mengalir dari para donatur, pihak rumah sakit, doa masyarakat luas, lembaga penjaring bantuan, serta insan pers yang memuat pemberitaan terkait kondisi Sauqi.

“Kondisi Sauqi mengalami kemajuan dibanding pertama kali masuk RS Djamil 16 hari lalu. Saat ini matanya kadang sudah terbuka dan kadang sudah bisa nangis. Rumah sakit masih melakukan pemeriksaan terhadap pembengkakan di bagian otak Sauqi,” kata Kiki, Rabu (8/8).

Sauqi saat ini dirawat intensif di ruang HCU anak RSUP M. Djamil, dan masih bergantung pada seabrek peralatan medis yang membuat pihak keluarga mesti berabar untuk kesembuhannya. Kiki mengaku, ia serta kakek dan nenek Sauqi yang bergantian menjaga anak tersebut selamat dirawat di rumah sakit.

Saat pertama kali Sauqi dirawat di M Djamil, katanya lagi, keluarga mendapat tawaran dari rumah sakit untuk menempati rumah singgah yang disediakan oleh Dompet Dhuafa, tetapi keluarga tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut karena nenek Sauqi atau Ibu dari Kiki, mengalami diabetes yang membuat kesusahan berjalan jauh. Sehingga keluarga sepakat menunggui Sauqi di rumah sakit.

“Ada tawaran itu, tetapi karena alasan itu kami belum gunakan. Sementara untuk pembiayaan, mulanya kami sempat bingung karena Sauqi saat masuk belum terdaftar dan aktif sebagai peserta BPJS, sehingga saat kami tanyakan biaya Sauqi di hari kelima ternyata sudah mencapai belasan juta. Tetapi Alhamdulillah sudah ada bantuan yang masuk,” kata Kiki lagi.

Pada laman donasi untuk Sauqi di website kitabisa.com, pantauan Haluan per jumat 10 Agustus telah terkumpul donasi sebesar Rp73.037.569 yang berasal dari 450 donatur. Sementara, waktu penggalangan dana masih tersisa selama 22 hari. Selain itu, Kiki mengaku keluarga juga telah menerima bantuan dari para donatur yang mengirim langsung donasi ke rekening keluarga mau pun mengantar langsung ke rumah sakit tempat Sauqi dirawat.

Kiki mengaku untuk sementara, sejumlah bantuan tersebut telah mengurangi beban pikiran keluarga sehingga bisa lebih fokus memberi perhatian terhadap perkembangan kondisi Sauqi. “Rumah sakit belum memberi kesimpulan lama perawatan dan perkiraan biaya, tetapi semoga yang ada itu cukup untuk membayarnya nanti. Kami harap tidak yang operasi-operasi lagi agar biaya yang terkumpul juga bisa disimpan untuk keperluan lain seperti pendidikan Sauqi, setelah sembuh nanti,” ujar Kiki berharap.

Sementara itu, Direktur Medik dan Pelayanan RSUP Dr. M. Djamil, Rose Dinda menyebutkan, pelayanan terhadap pasien di rumah sakit tidak pernah bergantung kepada status pasien sebagai pasien umum atau pasien BPJS Kesehatan. Namun, terkait pembiayaan, rumah sakit memang menjalankan mekanisme yang ditetapkan oleh BPJS sebagai penyelenggara jaminan kesehatan.

“Ketentuan BPJS itu setelah pasien masuk rumah sakit, harus bisa menunjukkan kartu kepesertaan jaminan kesehatan dalam 3×24 jam. Jika baru diurus, aktifnya 14 hari kemudian, itu pun di episode perawatan yang baru. Artinya pasien mesti pulang dulu. Tapi kami tidak izinkan Sauqi pulang mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan lepas dari peralatan medis,” kata Rose Dinda, didampingi Rusdi selaku dokter dari KSM Anak RSUP Dr. M. Djamil.

Terkait pemberian penanganan kepada Sauqi, Direktur utama (Dirut) RSUP Dr. M. Djamil, Yusirwan Yusuf menyebutkan, rumah sakit tersebut disiapkan untuk menerima pasien dalam status apa pun, dan memang bekerja sama dengan BPJS dalam hal pembiayaan pasien. Namun, perbedaan status tak mengurangi atau membeda-bedakan sedikit pun pelayanan yang diberikan kepada pasien.

“Namun sepanjang ini memang setiap kali ada masalah pembiayaan, maka rumah sakit yang paling mendapat sorotan. Padahal, terkait pelaksanaannya, BPJS yang membuat aturan dan kami berjalan sesuai aturan itu. Yang pasti, bagaimana pun keselamatan pasien adalah yang paling utama. Pasien yang datang ke sini tidak pernah disambut dengan pertanyaan apakah ada biaya atau tidak. Apalagi pasien emergency,” kata Yusirwan.

Hal yang perlu dipahami pula, katanya lagi, sebagai rumah sakit milik pemerintah, RSUP Dr. M. Djamil selalu diaudit keuangannya oleh lembaga keuangan pemerintah. Agar keberadaan rumah sakit tidak membuat kerugiaan terhadap keuangan negara.

“Tapi sekali lagi, pekerjaan utama itu adalah memberikan penanganan sesegera mungkin. Itu yang utama,” ujarnya lagi. (h/isq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 7 = 1