Pemerintah akan Setop Ekspor Minyak

Pemerintah akan Setop Ekspor MinyakIlustrasi. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

 

 

 

 

 

 

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menghentikan ekspor minyak mereka. Mereka meminta kepada para kontraktor tersebut untuk menjual minyak ke PT Pertamina (Persero).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto mengatakan bahwa kebijakan tersebut ditempuh sebagai salah satu cara untuk mengatasi neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan yang belakangan ini mengalami defisit.

Agar kebijakan tersebut bisa berjalan, Djoko mengatakan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan membuat peraturan yang membatasi harga jual maksimal minyak mentah hasil produksi KKKS ke Pertamina.


Harga maksimal tersebut kata Djoko akan dihitung berdasarkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditambah nilai alfa tertentu.

“Nilai alfa bisa nominal dolar atau persentase dari ICP, itu masih dikaji. Nanti tinggal KKKS dan Pertamina yang negosiasi business to business,” ujar Djoko di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII di Gedung DPR, Senin (27/8).

Djoko mengatakan untuk menentukan batasan maksimal, pemerintah saat ini masih mengumpulkan data historis harga jual minyak yang diekspor KKKS dan yang dibeli Pertamina.

Setelah seluruh KKKS dan Pertamina mengumpulkan seluruh data historis harga minyak mentah, pemerintah akan langsung menyusun formula harga maksimal yang akan ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM.

Selain upaya tersebut, Pertamina juga terus berupaya bernegoisasi dengan masing-masing KKKS.

Djoko mengatakan hingga kini, baru satu dari sekitar 70 KKKS yang telah menyepakati harga jual minyak mentah ke Pertamina. Harga yang disapakati ICP ditambah US$2 per barel.

Besaran harga tersebut, lanjut Djoko, sudah menguntungkan bagi Pertamina. Pasalnya, berdasarkan informasi yang ia terima rata-rata harga minyak impor Pertamina adalah ICP plus US$4 per barel.

“Saya tak usah menyebutkan KKKSnya, tapi sampai saat ini sudah satu KKKS yang sudah berhasil (menyepakati harga) dengan Pertamina yaitu ICP plus US$2 per barel. Kontraktornya dari dalam negeri,” ujarnya.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Erwin Maryoto manyatakan perusahaan akan mengikuti kebijakan pemerintah. Terkait harga kesepakatan dengan Pertamina, perusahaan baru akan membahas pekan ini.

“Kami akan evaluasi secara keseluruhan dengan memastikan nilai komersial crude tetap terjaga,” ujar Erwin.

Senada dengan Erwin, Vice President Commercial and Business Development ConocoPhillips Taufik Ahmad menyatakan perseroannya siap menjual jatah ekspor minyak ke Pertamina.

Saat ini, produksi minyak dari Blok Corridor, blok migas yang dikelola ConocoPhillips, 6 ribu bph di mana sekitar 25 hingga 30 persen menjadi jatah kontraktor. Selama ini, minyak diekspor karena tidak sesuai dengan spesifikasi kilang Pertamina.

“Kilang tidak bisa mengolah semua jenis minyak. Kami mau berbicara dengan Pertamina untuk bagaimana mengolahnya. Untuk harga kami belum bicara,” ujar Taufik.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian ESDM, total ekspor minyak mentah Indonesia berkisar 225 ribu bph. Sementara, Pertamina masih mengimpor minyak mentah rata-rata sekitar 400 ribu bph.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

32 + = 38