Pemda di Sumbar diminta campur tangan stabilkan harga daging ayam

Pedagang ayam potong melayani pembeli di los daging Pasar Tradisional Angso Duo, Kota Jambi, Jambi, Selasa. ( ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Padang, (Antaranews Sumbar) – Anggota DPRD Sumatera Barat Taufik Hidayat meminta pemerintah daerah segera menstabilkan harga daging ayam yang naik dalam beberapa hari terakhir di Kota Padang.

“Baik masyarakat, peternak kecil dan pedagang ayam mengeluhkan hal tersebut karena harga daging ayam cukup tinggi dan perlu sebuah aturan untuk mengatur hal itu,” katanya di Padang, Rabu.

Menurut politisi Partai Hanura itu dengan adanya peraturan daerah pemerintah dapat mengambil sikap dan tindakan yang jelas apabila terjadi ketidakstabilan harga di tengah masyarakat.

Dengan adanya peraturan daerah akan membuat para peternak menjadi lebih mandiri. Ia mengatakan masyarakat Sumbar didominasi oleh peternak sehingga mereka dapat menjalankan usaha dengan baik.

Menurut dia cara menstabilkan harga bahan daging tersebut dengan membuat perda karena hal ini dirasa cukup ampuh dan lebih efektif dalam menghadapi ketidakstabilan harga.

Hal serupa pernah dilakukan oleh pemerintah Bali dan Kota Makassar yang menerapkan perda tersebut. Hasilnya, saat ini para peternak yang ada didaerah tersebut sejahtera.

“Harga di sana cukup stabil sehingga tidak ada peternak yang rugi dan apabila perda yang sama dibuat di Sumbar kemungkinan peternak kita juga akan sejahtera,” ujarnya

Sebelumnya harga daging ayam mengalami kenaikan cukup tinggi dan membuat sejumlah pedagang ayam di Kota Padang mengeluhkan kondisi tersebut.

Salah seorang pedagang ayam Haji Amru menyampaikan harga ayam yang dibeli dari gudang saat ini sekitar Rp30 ribu per kilogram dan bahkan lebih. Hal ini sudah terjadi sebelum memasuki bulan puasa lalu.

“Normalnya harga daging ayam itu sekitar Rp27 ribu per kilogram,” katanya.

Kenaikan ini diduga karena adanya permainan yang dilakukan oleh oknum perusahaan yang mencetak bibit dan pakan ayam.

“Mereka ini yang bisa menentukan harga. Itu informasi yang saya dengar, mereka mengurangi jumlah bibit serta persediaan yang akan dilempar ke gudang,” katanya.

Dirinya berharap agar perusahaan inti seperti produsen bibit, pakan dan obat ayam pedaging bisa mengangkat harga ayam minimal di atas Harga Pokok Produksi (HPP) atau harga modal.

“Kami berharap pemerintah daerah segera menstabilkan harga dan membongkar praktik nakal dalam menentukan harga daging ayam,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

64 − 54 =