Padang dan Bukittinggi Jadi Sasaran Operasi Pasar Beras

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Tradisional Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (4/9). Sejumlah pedagang belum mengetahui kebijakan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) terkait penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium dan beras premium wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi dengan harga sebesar Rp9.450 per kilogram dan Rp12.800 per kilogram.

PADANG — Kota Padang dan Bukittinggi di Sumatra Barat menjadi sasaran operasi pasar untuk komoditas pangan beras medium. Operasi pasar yang dilakukan sejak Selasa (9/1) kemarin memang dilakukan untuk meredam lonjakan harga beras medium yang terjadi belakangan.

Catatan pemerintah, harga rata-rata di Sumatra Barat untuk beras kualitas medium I berada di level Rp 13.300 per kilogram dan beras medium II Rp 13.150 per kilogram. Harga tersebut jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan untuk wilayah Sumbar yakni Rp 9.950 per kg.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Dody Edward menyebutkan, operasi pasar di Sumbar akan tetap dilakukan selama masih ada permintaan dan gejolak harga yang garus diredam. Pemerintah, melalui Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Sumbar, menyiapkan pasokan beras medium sebanyak 12 ribu ton yang siap dilempar ke pasaran.

Stok Beras dari Petani ke Pasar Induk Cipinang Berkurang 

“Jadi, kita memastikan ketersedian beras mencukupi untuk masyarakat. Dan, jika permintaan pasar kekurangan Bulog siap mengelontorkan beras,” kata Dody saat mendampingi Pemprov Sumbar meninjau operasi pasar di Pasar Raya Padang, Rabu (10/1).

Operasi pasar oleh Bulog Sumbar kali ini menyasar 33 pedagang di dua titik utama yakni Kota Padang dan Bukittinggi. Dari 33 pedagang yang diakses, 22 pedagang di antaranya merupakan mitra Bulog Sumbar. Pemprov Sumbar juga akan memasang spanduk atau label yang memberi informasi kepada konsumen mengenai ketersediaan beras medium operasi pasar.

“Nanti toko atau pasar akan diberi label Bulog berupa spanduk tersedia beras,” ujar Dody.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit meminta masyarakat memanfaatkan pasokan beras medium yang disediakan dalam operasi pasar. Meski disadari masyarakat Sumatra Barat lebih memilih mengonsumsi beras lokal yang kualitasnya lebih diyakini lebih baik, namun Nasrul meminta masyarakat tidak menyia-nyiakan ketersediaan beras dengan harga yang relatif lebih rendah.

“Jangan ada anggapan bahwa beras dalam operasi pasar kualitasnya kurang baik. Semuanya sesuai standar pemerintah. Makanya manfaatkan,” ujar Nasrul.

Selain itu, Nasrul juga memastikan bahwa Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang bergerak di bawah Polda Sumbar juga terus mengupayakan pengawasan atas pasokan bahan pangan strategis, termasuk beras. Pengawasan, lanjutnya, terus dilakukan secara berkala hingga ke level pedagang dan petani untuk memastikan ketersediaan pasokan.

Kabid Pengadaan Operasional Pelayanan Publik (POPP) Bulog Sumbar, Laswendri menyatakan, harga yang dipatok dalam operasi pasar pekan ini tergantung zona yang telah ditentukan oleh Kementerian Perdagangan. Untuk Sumatra Barat, harga beras medium dalam operasi pasar dipasang di angka Rp 9.850 per kg atau Rp 100 lebih murah dibanding HET beras medium untuk Sumbar yakni Rp 9.950 per kg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

22 − = 20