Longsor di Sirongge Banjarnegara, 232 Jiwa Mengungsi

[ilustrasi] Sejumlah warga menyaksikan jalan raya yang ambles di lokasi bencana longsor di Desa Clapar, Madukara, Banjarnegara, Jateng.

 

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA — Belum selesai penanganan longsor di Desa Paweden dan Slatri Kecamatan Karangkobar, longsor kembali terjadi di wilayah utara Kabupaten Banjarnegara. Kali ini, longsor terjadi di Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum. Akibat bencana tersebut, sebanyak 90 KK terdiri dari 232 jiwa, terpaksa mengungsi.

”Sampai saat ini, warga masih mengungsi ke beberapa lokasi karena kondisi tanah yang masih terus bergerak,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Arif Rachman, Senin (12/2).

Menurutnya, bencana tersebut terjadi pada Sabtu (10/2) petang sekitar pukul 18.45, setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama beberapa jam. Tebing yang berada di Dusun Sawangan kemudian mengalami longsor, bahkan merangsek menuju jalan utama Sirongge Lawen sehingga jalur sepanjang 150 meter mengalami rusak parah dan tidak dapat lagi dilalui kendaraan.

Sejauh ini, pergerakan tanah tersebut tidak sampai merambah wilayah pemukiman. Namun demikian beberapa rumah warga terancam mengalami kerusakan, karena mulai ada beberapa retakan di lokasi beberapa rumah warga. ”Agar lebih aman mereka memang lebih baik mengungsi, karena kondisi cuaca yang masih didominsi hujan dengan curah hujan tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, warga yang mengungsi seluruhnya merupakan warga Dusun Sawangan yang terdiri dari warga RT 1, 2 dan 3 RW 3. Sedangkan, warga yang mengungsi terdiri dari 81 laki-laki, 151 perempuan, dengan 24 anak-anak dan 13 lansia.

Kebanyakan warga mengungsi ke bangunan SD Negeri 2 Sirongge dan Puskesmas Pandanarum. Meski ada juga yang mengungsi ke rumah tetangga mereka di lain dusun lain yang aman.

Menurut Arif, kejadian longsor di Sirongge ini sebenarnya bukan yang pertama terjadi. Pada 2017 lalu, juga pernah terjadi longsor di desa ini yang menyebabkan jalan, gedung sekolah dan infrastruktur lain mengalami kerusakan.

”Pergerakan tanah yang sekarang, berada di lokasi yang tidak terlalu jauh dari yang dulu. Pergerakannya juga tidak hanya terjadi pada Sabtu, tapi sudah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Hanya pada Sabtu hingga Ahad, pergerakannya memang lebih cepat sehingga menimbulkan suara gemuruh dan pohon-pohon bertumbangan,” katanya.

Arif menyebutkan, warga kemungkinan akan berada di lokasi pengungsian selama beberapa hari ke depan sampai kondisi benar-benar aman. Untuk itu, pihaknya kini sedang membenahi beberapa lokasi yang menjadi tempat pengungsian warga.

”Lokasi pengungsian sekarang kurang memadai. Karena itu, kami akan membenahi agar tempat pengungsian agak lebih nyaman,” jelasnya.

Seperti pengungsi yang berada di bangunan SD Negeri 2 Sirongge, pengungsi terpaksa tidur berhimpitan karena jumlah pengungsi yang cukup banyak. Di bangunan ini, ada 56 KK yang mengungsi dengan 11 balita dan 10 lansia.

Bahkan sebelumnya ada 11 KK atau 38 jiwa, yang mengungsi kandang ternak karena kemungkinan khawatir dengan kondisi ternaknya bila ditinggal. ”Tapi sedang carikan lokasi yang lebih layak untuk mengungsi. Cuma masalahnya mereka inginnya di lokasi yang tidak jauh dari rumahnya, dan ini menyulitkan kami karena tidak ada bangunan luas di sekitar lokasi tersebut,” jelasnya.

Arif juga menyatakan, sampai saat ini belum dapat memastikan sampai kapan para pengungsi akan bertahan di pengungsian. Pihaknya masih menunggu hasil kajian dari Badan Geologi Bandung yang baru akan meneliti kondisi lahan di lokasi bencana, Rabu (14/2). ”Hasil kajian ini akan menjadi acuan apakah tempat tingga warga yang mengungsi masih bisa ditempati atau tidak,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + = 22