Limbah Hitam Pekat Dibuang ke Anak Sungai Citarum

Foto udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (11/4).

Foto udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (11/4).

“Menko Maritim perintahkan Kapolda turun langsung mengecek lokasi pembuangan limbah…”

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, RANCAEKEK — Komandan Sektor 21 Citarum Harum, Kolonel Infanteri, Yusep Sudrajat mengungkapkan pihaknya Selasa (17/4) kemarin menemukan pabrik Kahatek di Rancaekek yang membuang limbah pabrik melalui saluran pembuangan langsung ke anak Sungai Citarum, Sungai Cikijing.

“Kemarin, saya cek Sungai Citarik yang bermuara ke Citarum. Lalu cek Sungai Cimande dan Cikijing. Di Sungai Cikijing, ada pelebaran sungai oleh BBWS. Saat cek airnya hitam sekali,” ujarnya saat dihubungi via sambungan telepon, Rabu (18/4).

Setelah melihat kondisi air yang hitam pekat, ia mengaku, memanggil Babinsa dan Koramil setempat dan mengecek asal muasal air sungai bisa menjadi hitam pekat. Saat dicek, ternyata, air menjadi hitam berasal dari limbah yang dibuang pabrik Kahatek.

“Saya panggil Babinsa dan Koramil ternyata muaranya di pabrik Kahatak. Saya lewat (berjalan) ke pabrik sebelahnya (kahatek) yang sudah berhenti. Kita dapatkan pembuangan dari Kahatex. Itu sekitar jam 10 pagi,” katanya.

Menurutnya, sisi kiri saluran pembuangan limbah itu dibeton sekitar 2,5 meter. Termasuk bagian sisi kanan. Sehingga, jika dari jauh, tidak terlihat seperti saluran pembuangan limbah karena posisinya yang tersembunyi dan tertutup oleh bangunan beton.

Usai mengetahui hal tersebut, dirinya langsung merekam video saluran pembuangan limbah tersebut dan melaporkan kepada Pangdam III Siliwangi dan staf ahli Menko Maritim. Kemudian, dari sana, Menko Maritim memerintahkan Kapolda untuk turun langsung mengecek lokasi pembuangan limbah.

“Sekitar pukul 13.00 kemarin, tim dari Polda Jabar dan Dinas Lingkungan Hidup Sumedang dan Provinsi Jabar langsung mendatangi lokasi. Mereka mengambil sampel air limbah untuk dicek. Hasilnya sampai sekarang belum ada,” ungkapnya.

Yusep menambahkan, sampai saat ini belum mengetahui saluran pembuangan tersebut sudah ditutup atau pun belum. Sebab masih menunggu hasil laboratorium mengenai kadar air limbah tersebut. Dia mengatakan, saat dikonfirmasi ke pihak perusahaan mereka berkilah jika air limbah sudah sesuai baku mutu.

“Dengan mata telanjang melihat pembuangan limbah itu, saya bilang limbah kotor dan hitam. Mereka berkilah sesuai baku mutu,” katanya. Ia mengatakan, pembuangan air limbah yang berasal dari pabrik tersebut sudah berlangsung lama.

“Sampai sawah masyarakat sekian hektare mati. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Jadi memang perlu ada penanganan serius dari pemerintah,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

87 − 86 =