KLHK Upayakan Segera Evakuasi Buaya di Tanjung Priok

Korpolairud Ditpolairut Bhamarkam Polri melakukan penyisiran terkait kemunculan buaya di Pulau Pondok Duyung, Teluk Jakarta, Ahad (17/6).

Korpolairud Ditpolairut Bhamarkam Polri melakukan penyisiran terkait kemunculan buaya di Pulau Pondok Duyung, Teluk Jakarta, Ahad (17/6).

 

 

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih mengupayakan evakuasi buaya yang muncul di perairan Kompleks TNI Angkatan Laut, Pondok Dayung, Tanjung Priok. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE KLHK Indra Eksplotasia mengatakan saat ini penanganan sedang berlangsung oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI.

Indra, melalui keterangan tertulis yang diterima di Yogyakarta, Ahad (17/6), mengatakan penanganan tersebut untuk selanjutnya dipantau pergerakannya. Dengan demikian, buaya dapat segera dievakuasi.

Pada Kamis (14/6), kemunculan buaya muara sepanjang tiga meter di perairan Kompleks TNI Angkatan Laut, Pondok Dayung, Tanjung Priok. Setidaknya ada 15 kali buaya itu muncul di sekitar Pondok Dayung.

Kemudian, buaya tersebut ditembak dua kali oleh anggota Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) pada Sabtu (16/6). Namun, hingga saat ini, petugas masih belum menemukan kembali buaya tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya sudah meminta buaya yang muncul di Dermaga Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak ditembak. Namun, ia mengatakan perlu segera disiapkan langkah evakuasi agar tidak mengancam keselamatan masyarakat sekitar.

“Kami sudah meminta ke pihak Lantamal untuk tidak menembak dengan senjata api ke satwa tersebut,” kata Menteri Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis diterima di Yogyakarta, Ahad (17/6).

Untuk itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera berkoordinasi dengan lantamal dan pengelola Ancol. Koordinasi ini terkait penanganan satwa berjenis buaya muara (Crocodylus porosus) ini.

Siti tetap menduga atau memperkirakan buaya berukuran 2,5 meter tersebut lepas dari penangkaran atau lepas waktu banjir. “Sehingga, kecil kemungkinan buaya tersebut berasal dari alam,” ujar Siti.

Hingga kini, belum diketahui fenomena apa yang menyebabkan buaya tersebut berkeliaran di sekitar pantai atau laut. Ia pun telah meminta Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan direktur terkait untuk memeriksa semua lembaga konservasi atau penangkaran di sekitar pluit.

Dirjen KSDAE dan direktur terkait juga diminta terus mencari informasi apakah buaya tersebut dilepas, terlepas atau ada hal lainnya. Ia menambahkan hari ini, tim BKSDA masih berjaga di lapangan bersama pihak manajemen Ancol dan lantamal.

“Saat ini, jaring-jaring pengaman ke batas Ancol sudah terpasang,” lanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 57 = 67