Harga Ayam Potong Melambung, Pedagang Setop Berjualan

Penjual ayam potong melayani pembeli di pasar tradisional Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/7).

Penjual ayam potong melayani pembeli di pasar tradisional Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/7).

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG — Para pedagang daging ayam di Pasar Kebonpolo dan Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Jawa Tengah, Ahad (22/7), tidak berjualan. Alasannya, harga salah satu barang kebutuhan masyarakat tersebut yang makin tinggi sejak beberapa hari terakhir.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Magelang Sri Retno Murtiningsih di Magelang, Ahad, mengatakan, kelangkaan pakan ternak pada proses produksi di berbagai tempat mengakibatkan terjadinya kenaikan harga daging ayam di pasaran setempat. “Persoalan ini sudah kami informasikan kepada Disperindag Provinsi Jateng di Semarang,” katanya.

Sri Retno mengatakan, hampir semua daerah mengalami kenaikan harga daging ayam sejak bulan Ramadhan dengan puncaknya menjelang Lebaran yang lalu dengan harga tertinggi Rp 40 ribu per kilogram. Setelah Lebaran, harganya sempat turun bertahap hingga antara Rp 34 ribu-Rp 35 ribu per kilogram.

Akan tetapi, sejak sekitar empat hari terakhir terjadi lagi kenaikan harga daging ayam. Termasuk, di sejumlah pasar di Kota Magelang dengan tiga kecamatan dan 17 kelurahan itu, yang mengakibatkan para pedagang tidak membuka penjualan.

“Harga belinya dari peternak makin tinggi, harganya sudah sampai Rp 25 ribu per kilogram ayam hidup, sehingga sekarang kami kesulitan untuk menjualnya kepada konsumen,” kata Maesaroh, seorang pedagang daging ayam di Pasar Kebonpolo Kota Magelang.

Oleh karena harga pembelian ayam hidup dari peternak yang telah tinggi itu, maka tidak memungkinkan dirinya melakukan penjualan daging itu kepada konsumen dengan harga di atas Rp 35 ribu per kilogram. Apabila saat ini penjualan daging ayam dengan harga lebih tinggi dari Rp 35 ribuper kilogram, dirinya akan merugi.

“Tidak laku kalau dijual lebih tinggi lagi, konsumen beralih ke yang lain,” kata Maesaroh.

Ia menyebut saat ini harga daging ayam di pasar setempat sekitar Rp 45 ribu per kilogram. Harga tersebut sebagai tertinggi selama ini. Ia mengaku saat masa Lebaran yang lalu, menjual daging ayam dengan harga berkisar Rp 35 ribu-Rp36ribu per kilogram.

“Kami tidak bisa berbuat banyak lagi, kami memutuskan tidak berjualan untuk sementara waktu sambil menunggu perkembangan lebih lanjut,” ucap dia.

Harga daging ayam potong maupun ayam kampung di pasar tradisional di Kota Malang, Jawa Timur,  pun masih tetap tinggi meski musim Lebaran sudah berlalu. Harga ayam per kilogram mencapai Rp 40 ribu hingga Rp 42 ribu.

Pantauan Antara di sejumlah pasar tradisional di wilayah Kota Malang, Ahad memperlihatkan kenaikan sejak bulan Ramadhan hingga Lebaran 2018. Bahkan, hingga saat ini harga daging ayam potong terus melambung, mencapai harga Rp 42 ribu per kilogram.

“Sebelum Ramadhan, harga daging ayam potong mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 26 ribu. Memasuki bulan Ramadhan naik secara perlahan hingga menyentuh angka Rp 30 ribu-Rp 32 ribu per kilogram dan Lebaran seharga Rp 40 ribu hingga Rp 43 ribu per kilogram, sekarang harganya masih tetap tinggi,” kata Bambang, pedagang ayam di Pasar Tunggulwulung Kota Malang.

Bahkan, lanjut Bambang, harga  ayam kampung juga terus naik. “Hampir tiap hari ada kenaikan harga antara Rp 1.000-Rp 1.500 per ekor. Sekarang harga ayam kampung rata-rata Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu per ekor (ukuran sedang),” ujarnya.

Bambang mengatakan, ayam kampung ukuran besar (jago) atau betina seberat 2 sampai 2,5 kilogram seharga Rp 100 ribu Rp 120 ribu per ekor. Selain ayam potong dan ayam kampung, harga ayam merah juga naik.

“Saya kulakannya Rp 43 ribu per ekor untuk ukuran tanggung (sedang), jualnya ke konsumen pelanggan kadang-kadang merugi karena pelanggan tetap (penjual soto) tidak mau naik, kalau saya naikkan mereka berhenti berlangganan,” katanya.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, katanya, dirinya hanya mengandalkan jasa pemotongan ayam dari pelanggan rumahan dan konsumen non-pelanggan tetap. “Sudah tiga bulan terakhir ini kondisi penjualan ayam kampung maupun ayam merah sulit didapat karena berbagai alasan dari peternak maupun distributor,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

88 − 85 =