Harga Ayam Mahal, Pedagang di Padang Pilih Libur Jualan

Pedagang daging ayam melayani pembeli di Pasar Peterongan Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/7).

Pedagang daging ayam melayani pembeli di Pasar Peterongan Semarang, Jawa Tengah, Jumat (20/7).

 

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Seretnya pasokan ayam ras untuk pasaran Kota Padang, Sumatra Barat membuat nyaris 60 persen pedagang ayam memilih libur berjualan. Di Pasar Raya Kota Padang misalnya, hanya sekitar 30-40 persen pedagang yang memilih bertahan menjajakan daging ayam ras. Apalagi harga daging ayam masih bertengger di angka Rp 40 ribu-an per ekor, masih di atas harga normalnya Rp 30 ribu-an per ekor.

“Jadinya konsumen enggan ke pasar. Ayam yang per kilonya biasa 19 ribu, jadi 26 sampai 30 ribu (rupiah) per kilogram (kg). Hanya 30 persen (pedagang) yang jualan. Pasokan di lapangan minim,” kata Sekretaris Koperasi Peternak dan Pedagang Ayam Kota Padang, Rajabman, Rabu (1/8).

Rajabman menyebutkan, jumlah pasokan ayam ras di pasaran Sumatra Barat saat ini tak sampai 40 ribu ekor per harinya. Padahal di hari normal, pasokan ayam di Sumbar bisa menyentuh 80 ribu ekor per hari. Meski pemerintah mengatakan ketersediaan ayam mencukupi, namun kenyataan di lapangan masih menunjukkan seretnya pasokan.

“Ini yang harus diperhatikan pemerintah. Pasokan itu ke mana,” ujar Rajabman.

Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU Medan, Ramli Simanjuntak mengatakan bahwa pihaknya sedang mengusut penyebab kenaikan harga ayam di Sumatra Barat. Sejumlah alasan memang sempat disampaikan pedagang, termasuk kenaikan harga pakan. Namun menurut kajian yang dilakukan KPPU Medan, rata-rata kenaikan harga pakan ayam hanya dalam rentang Rp 100 hingga Rp 200 per kg.

“Dan biaya produksinya tiak sebanding dengan kenaikan harga yang ada di pasar,” kata Ramli.

Meski di Padang sendiri harga daging dan telur ayam sudah mulai menurun, KPPU menjanjikan akan tetap memanggil pabrikan pakan ternak dan pemasok DOC (day-old chicken) untuk dimintai keterangan. Sebagian pabrikan memang berada di Medan, Sumatra Utara, namun distribusi pakannya menyebar hingga peternak di Sumatra Barat.

“Jika mereka sengaja permainkan pasokan, ini menjadi indikasi mereka dan melanggar aturan. Kalau ayam disampaikan tidak ada pengurangan namun pasokan ke pasar berkurang. Ini yang kami telusuri, pengaturan atau tidak,” kata Ramli.

Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah menambahkan, pihaknya telah membentuk satuan tugas yang berperan memantau pergerakan harga pangan strategis di pasar. Bila terindikasi adanya kenaikan harga secara signifikan, tim akan langsung turun ke distributor dan peternak serta petani untuk memastikan mata rantai distribusi berjalan normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =