Gara-gara Ikan Teri, Penghuni Panti Rehab di Medan Mengamuk

Gara-gara Ikan Teri, Penghuni Panti Rehab di Medan Mengamuk              Polisi maupun petugas keamanan panti rehab tersebut menduga aksi para penghuni dipicu oleh lauk pauk makanan yang minim.
 

Jakarta, CNN Indonesia — Puluhan penghuni panti rehabilitasi Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bhayangkara Indonesia (LRPPN BI) di Jalan Budi Luhur Gang PTP, Medan Helvetia, Sumut, mengamuk merusak panti rehab tempat mereka, Selasa (16/1/).

Selain merusak panti, para penghuni yang tengah menjalani rehabilitasi itu memilih kabur dari panti.

Hingga saat ini, pihak pengelola masih mendata berapa penghuni yang kabur dari panti. Kaburnya para penghuni ditenggarai karena kekesalan mereka atas makanan yang disediakan oleh panti.

Bambang, warga sekitar panti menuturkan, awalnya mereka mendengar keributan dari dalam panti. Ada bunyi piring yang dipecahkan, serta meja yang dibanting yang diselingi teriakan.

ak lama berselang, para penghuni panti yang jumlahnya puluhan merusak pintu panti dan kabur.

“Kami diam aja, mau nyampuri gak urusan awak,” kata Bambang. Setelah berhasil keluar, kata Bambang, mereka berlari mengarah ke pasar besar.

“Kalau jumlahnya gak tahu persis, puluhan lah,” ungkapnya.

Selain warga, mengamuknya para penghuni panti juga disaksikan para petugas panti. Seperti halnya warga, petugas panti juga tak bisa berbuat banyak.

Minta Ikan Teri

Untung Wibowo, petugas keamanan panti memastikan tidak ada petugas yang terkena oleh amukan mereka. Begitu juga fasilitas panti, hanya ada pintu kaca serta piring-piring yang dipecah.

Menurutnya, ada dua hal yang diduga menjadi penyebab mengamuknya para penghuni. Pertama, soal makanan dan kedua ada yang memprovokasi mereka. “Mereka mintanya ikan teri itu diperbanyak,” kata Untung.

Untung belum memastikan berapa jumlah penghuni panti rehab yang kabur. Hanya saja, sebelum kejadian ada 71 penghuni panti baik laki-laki dan perempuan yang menjalani rehabilitasi di panti berlantai tiga itu.

Para penghuni menjalani program rehabilitasi selama 6 bulan di panti yang baru diresmikan Oktober 2016.

Untuk mengembalikan yang kabur, mereka berkoordinasi dengan pihak keluarga. Sementara polisi, tidak dilibatkan untuk pencarian mereka. “Kami minta keluarganya untuk menjemput anaknya kembali,” katanya.

Setelah kejadian, petugas Kepolisian Sektor Helvetia masih berjaga di sekitar panti mengantisipasi amukan berulang. “Dugaannya karena makanan,” kata Kapolsek Helvetia Kompol Trila Murni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

91 − 82 =