Enam Bulan, Neraca Perdagangan RI Defisit US$1,03 Miliar

image_title

Kapal Peti Kemas

VIVA – Badan Pusat Statistik mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 mengalami surplus US$1,74 miliar. Surplus itu terlihat dari nilai ekspor yang sebesar US$12,99 miliar, sedang impor sebesar US$11,25 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan, surplus itu disebabkan karena laju pertumbuhan ekspor dan impor mengalami penurunan pada Juni 2018, namun laju impor mengalami penurunan tajam dibanding ekspor sehingga neraca perdagangan mampu mengalami surplus.

“Surplus kita lumayan dari pattern sebelum-sebelumnya, sehingga kita harap neraca perdagangan kita surplus lebih baik pada bulan-bulan berikutnya,” ucapnya di Gedung BPS, Senin, 16 Juli 2018.

Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk nilai ekspor tersebut berasal dari produk non-migas yang masih alami penurunan sebesar 22,57 persen atau sebesar sebesar US$11,28 miliar dan ditopang ekspor migas yang naik sebesar 4,67 persen atau yang sebesar US$1,57 miliar.

Sementara itu, untuk nilai impor yang mengalami penurunan berasal dari produk non-migas yang naik sebesar 7,19 persen atau US$14,83 miliar, serta produk migas sebesar 20,95 persen atau US$1,72 miliar.

Tajamnya penurunan nilai impor tersebut, menurut Suhariyanto disebabkan karena penurunan di dua sektor, yakni non-migas turun tajam 38,23 persen atau yang sebesar US$9,14 miliar dan migas turun sebesar 26,11 persen atau sebesar US$2,12 miliar.

“Jadi nilai ekspor pada Juni 2018 adalah sesuatu yang biasa terjadi setiap kita merayakan Lebaran, karena ada libur panjang yang menyebabkan hari kerja mengalami pengurangan. (Sedangkan) Impor turun di semua sektor, karena impor tinggi sudah terjadi sebelum Lebaran, dan sekarang impor sudah turun curam sekali,” ungkapnya.

Meski pada Juni 2018 mengalami surplus, namun secara kumulatif, Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan selama Januari-Juni 2018 tetap mengalami defisit sebesar US$1,03 miliar. Di mana total ekspor tercatat sebesar US$88,01 miliar dan impor US$89,04 miliar.

“Tetapi secara kumulatif defisit karena surplus hanya Maret dan Juni,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

62 − 54 =