Dokter Bimanesh Merasa Dikorbankan Rumah Sakit dalam Kasus Novanto

Dokter RA Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4/2018).

Dokter RA Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com – Dokter RS Medika Permata Hikau, Bimanesh Sutarjo merasa dijadikan korban oleh rumah sakit dalam penanganan mantan Ketua DPR RI Setya Novanto. Dokter hingga perawat rumah sakit yang pernah dihadirkan sebagai saksi seolah angkat tangan dan membuat dirinya sebagai pihak yang satu-satunya mengatur skenario perawatan Novanto.

Bimanesh menyebutkan, perawat Indri Astuti berinisiatif memasangkan infus anak-anak ke pembuluh darah Novanto, bukan atas suruhan dirinya. Saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4/2018) Indri beralasan kesulitan mencari pembuluh darah Novanto ditambah dirinya merasa mantan Ketua Umum Golkar itu kesal.

Menurut kesaksian Indri juga, Bimanesh menyuruh infusnya ditempel saja, tidak ditusukkan.
Padahal di BAP pertama menurut Bimanesh tidak ada instruksi pasang infus. Pernyataan itu baru disampaikan Indri dalam BAP kedua.

Bimanesh merasa dirinya  difitnah. Dalam kesaksiannya, para perawat IGD mengaku diperintah Kepala Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Permata Hijau Michael Chia Cahaya untuk membawa Novanto ke Lantai 3 rumah sakit. Saat itu, Michael beralasan disuruh Bimanesh. Padahal dirinya tak pernah bertemu dr michael di IGD.

Menurut Bimanesh, Michael ada kepentingan untuk berbohong untuk menutupi kesalahannya karena ketidakberadaannya di IGD. Saat itu, Michael menolak Novanto masuk IGD karena belum melihat langsung kondisi pasien. Menurut Bimanesh, justru Pelaksana Tugas Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau, dokter Alia, yang mendorong agar Novanto dirawat di rumah sakit.

Sebab saat itu, Alia langsung menghubungi Direktur RS Medika Permata Hijau Hafil Budianto Abdulgani dan meminta Bimanesh datang ke rumah sakit.

Selain itu, Alia juga menghubungi pihak Admission rumah sakit untuk mendapat kamar serta melayani pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, yg mensurvei kamar itu. Menurutnya, saat itu Fredrich menyampaikan kepada Alia bahwa ada rencana kecelakaan Novanto. Alia kemudian sibuk mencari perawat dan membayarnya supaya mau merawat Novanto.

Bimanesh menduga, para saksi sengaja menutup-nutupi fakta itu dan menimpakan kesalahan padanya. Sebab, Kementerian Kesehatan sebelumnya telah mengingatkan jika RS Medika Permata Hijau terbukti terlibat dalam persekongkolan Novanto, maka akan ditutup.

Bimanesh mengatakan, hingga hari ini ia tidak memahami perannya yang disebut menghalangi penyidikan. Menurut dia, justru rumah sakit yang paling berperan untuk membawa Novanto untuk dirawat, bukan dirinya. Ia tak pernah memaksakan agara Novanto dirawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

81 − 80 =