Dipersulit Liputan, Wartawan Boikot Kunker Menaker

Boikot
Boikot

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS — Sekitar 25 wartawan Banyumas, melakukan aksi boikot kunjungan kerja yang dilakukan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri di proyek terowongan KA Desa Notog Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Selasa (16/1). Aksi yang dilakukan wartawan bukan disebabkan sikap dari pihak Kementerian Tenaga Kerja. Melainkan disebabkan sikap dari pihak PT PP selaku pelaksana proyek pembuatan terowongan.

”Kami melakukan peliputan ke proyek tersebut, sebenarnya juga karena diundang oleh PT PP. Namun saat hendak melakukan, malah dipersulit. Malah seorang petugas PT PP membentak-bentak wartawan,” jelas wartawan MNC Grup, Saladin Ayyubi.

Berdasarkan informasi, kehadiran Menaker ke lokasi proyek pembangunan terowongan KA tersebut, dalam rangka bulan keselamatan kerja. Selain itu, juga untuk meninjau lokasi proyek karena proyek tersebut sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga kerja lokal.

Ihwal terjadinya insiden tersebut, terjadi saat Menaker Hanif Dakhiri sudah berada di lokasi proyek. Setelah mendengan paparan pihak PT PP mengenai pelaksanaan proyek, Menaker masuk ke dalam tenda. Sedangkan para wartawan bersiap-siap di depan lokasi proyek bila Menaker melakukan peninjauan ke dalam lokasi proyek terowongan.

Mengingat kebiasaan melakukan peliputan di lokasi proyek, biasanya pada wartawan yang akan meliput disediakan perlengkapan keselamatan. Namun saat seroang wartawan dari Media Indonesia, Liliek Dharmawan, menanyakan perlengkapan  keselamatan pada petugas PT PP, dengan ketus dijawab bahwa peralatan hanya disediakan untuk tamu. ”Untuk wartawan nanti kalau ada sisa,” ujar petugas tersebut.

Fotografer Antara, Idhad Zakaria, yang menyaksikan dialog tersebut, berusaha menjelaskan bahwa kehadiran wartawan melakukan peliputan Menaker, adalah atas undangan pimpinan PT PP.

Ia kemudian menegaskan bahwa mereka   berusaha mencari solusi terbaik agar wartawan yang berjumlah 25 orang bisa mendapatkan APD sehingga bisa masuk ke lokasi proyek untuk meliput kunjungan Menaker saat meninjau proyek terowongan. Namun petugas tersebut tidak peduli.

Bahkan saat Idhad mencoba bernegosisasi tentang jumlah wartawan yang diizinkan masuk melakukan peliputan Menaker, pegawai dari PT PP tersebut membentak ”Saya sudah biasa mengahadapi wartawan,” ujarnya.

Mendapat perlakukan seperti ini, para wartawan yang melakukan peliputan kegiatan tersebut, akhirnya memutuskan tidak melanjutkan peliputan. ”Kami datang memenuhi undangan PT PP sudah sejak pukul 07.30. Sebelumnya juga sudah di-briefing pimpinan PT PP mengenai prosedur keselamatan selama melakukan peliputan. Namun saat akan meliput, ternyaat mendapat perlakukan tidak enak.  Ya sudah, kita pulang saja,” ujarnya.

Dalam proyek pembangunan terowongan KA ini, terkesan pihak pelaksana proyek maupun pihak Satuan Kerja dari Ditjen KA Kemenhub, memang cenderung tertutup. Beberapa kali wartawan di Banyumas meminta izin pada pihak Satker agar bisa meliput progres pekerjaan tersebut, namun tidak pernah mendapatkan izin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

56 − 53 =