Di Sawahlunto, Estimasi Penularan HIV/AIDS Tinggi

Di Sawahlunto, Estimasi Penularan HIV/AIDS Tinggi

 

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM – Penularan kasus HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es. Biasanya yang tampak hanya dibagian atas atau luarnya saja, padahal penularannya telah mencengkram hingga kesemua sendi kehidupan masyarakat seperti halnya di Kota Sawahlunto.

Sepanjang tahun 2002 hingga 2017, di kota arang ini telah ditemukan sebanyak 19 kasus kasus HIV/AIDS dan telah meninggal dunia sebanyak 13 orang.

“Estimasi atau perkiraan penularan HIV/AIDS di Sawahlunto, Wanita Pekerja Sek (WPS) sebanyak 210 orang dengan pelanggan WPS sebanyak 2.500 orang, lelaki seks lelaki sebanyak 120 orang, waria 20 orang dan dewasa ODHA sebanyak 50 orang,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kesmas P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB Kota Sawahlunto, dr Alansari didampingi Kasi, Sri Wareski Ismal kepada Haluan, Rabu (14/3).

Dijelaskan Alansari, ini merupakan estimasi yang dibuat berdasarkan pemantauan dan penelitian di lapangan. Dari data estimasi ini, tampak Sawahlunto salah satu daerah dengan risiko tinggi penularan atau terjangkit HIV/AIDS.

Sebenarnya, lanjut Ansari, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sawahlunto telah melakukan edukasi dalam memutus rantai penyebaran virus berbahaya yang belum ada obatnya itu. Melalui kampanye dan sosialisasi yang dilakukan KPA Sawahlunto terasa belum maksimal dikarenakan keterbatasan anggaran di KPA itu sendiri.

“Memutus rantai penyebaranya selain kampanye dan sosialisasi juga dibutuhkan kegiatan pemeriksaan. Dari anggaran yang hanya teralisasi Rp18 juta dari Rp90 juta yang diharapkan, tentu tidak dapat menekan maupun mengoptimalkan kegiatan dalam pemutusan mata rantai penyebaran virus tersebut,” katanya.

“Tahun ini dengan telah terbentuknya kepengurusan KPA yang baru, kita akan lebih intens dalam mensosialisasikan dan mengkampanyekan upaya memutus rantai penyebaran HIV/AIDS. Dengan kegiatan itu diharapkan masyarakat lebih mengenal penyakit dan cara penularannya,” ujar Ansari.

KPA sendiri, lanjut Alansari, merupakan wadah untuk sharing informasi sesama penderita HIV/AIDS sekaligus melakukan edukasi dan pendampingan bagi penderita. Untuk itu kepada masyarakat yang beresiko tertular agar dapat melakukan cek kesehatan di semua Puskesmas yang ada. Selain gratis hasil dari cek kesehatan itu akan dirahasiakan. (h/mg-rki)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 2