Di Dakota Utara ketegangan memanas jelang pelantikan Trump

Di Dakota Utara ketegangan memanas jelang pelantikan Trump

Cannon Ball, Dakota Utara (ANTARA News) – Ketegangan di daerah pembangunan pipa minyak Dakota Utara, Amerika Serikat, memanas pekan ini, terlihat dari banyak bentrok petugas dengan pengunjuk rasa menjelang pelantikan presiden terpilih Donald Trump, Jumat.

Trump mendukung pembangunan pipa minyak senilai 3,8 miliar dolar AS itu.

Polisi menembakkan gas air mata dan melemparkan sejumlah karung untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Petugas juga menangkap sekitar 40 orang di jembatan tempat bentrok itu terjadi, kata pajabat.

Pengunjuk rasa di kamp menunjukkan kekecewaannya terhadap pelantikan Trump karena ia diduga akan melanjutkan pembangunan pipa minyak sesaat setelah menjabat pada Jumat.

Namun, mereka juga mengaku dukungan dari suku asli, “Standing Rock Sioux”, yang memulai protes sejak tahun lalu tengah melemah.

“Jelang pelantikan, masyarakat ingin memastikan suara mereka masih didengar selagi ada kesempatan,” kata Benjamin Johansen (29), seorang pemahat kayu dari Iowa yang telah bertahan di kamp selama dua bulan.

“Ada kemungkinan besar, saat Presiden baru dilantik, suara kami tidak lagi jadi pertimbangan,” katanya.

Bentrok pengunjuk rasa dengan polisi pada pekan ini dinilai cukup parah sejak Korps Zeni Angkatan Darat AS menolak izin pembangunan pipa minyak di dasar Danau Oahe itu pada Desember.

Suku asli Amerika dan pegiat lingkungan mengatakan, pembangunan pipa minyak akan mencemari sumber air serta mengancam keberlangsungan lahan adat yang sakral.

Anggota suku “Standing Rock Sioux” yang tanahnya turut terancam sempat meminta demonstran bubar pascakeputusan Korps Zeni diumumkan.

Namun kamp yang kini disebut “Oceti Oyate” masih dipenuhi sekitar 600 demonstran.

Warga asli meminta agar kamp dipindah pada 29 Januari ke lokasi lain untuk menghindari risiko banjir.

Para tetua adat beserta Gubernur Dakota Utara Doug Burgum telah mengingatkan air kemungkinan akan membanjiri kamp awal Maret nanti.

Namun permintaan agar aksi dihentikan membuat suasana hati pegiat kian buruk, kata Amanda Moore (20), seorang aktivis dari kelompok “Black Lives Matter”.

“Kami cukup tertekan dengan pelantikan Trump yang akan berlangsung dalam waktu dekat berikut kaitannya terhadap pembangunan pipa minyak itu,” katanya.

Demonstran bentrok dengan petugas, Kamis, di Jembatan Backwater selama tiga malam berturut-turut.

Pengunjuk rasa dikabarkan melempari petugas dengan bola salju. Mereka juga memanjati barikade walau akhirnya didorong oleh polisi.

Petugas balik menembakkan karung berisi kacang dan spons pada pukul dua dini hari waktu setempat, kata seorang saksi.

Polisi mengaku mereka juga menembakkan gas air mata.

Konflik kembali terjadi setelah Korps Zeni AS mulai membuat kajian lingkungan untuk pembangunan pipa minyak.

Setidaknya satu demonstran dirawat di rumah sakit, kata Departemen Sheriff Morton County.

Petugas telah menangkap 37 orang sejak Senin, sehingga jumlah tahanan mencapai 624 orang sejak Agustus lalu.

“Mereka datang dan mengaku ingin berdoa serta meminta kami mundur. Namun mereka menjadi agresif, bahkan mulai mengancam petugas,” kata Maxine Herr, juru bicara pihak Sheriff.

“Tindakan dan ucapan mereka adalah dua hal yang berbeda,” katanya.

Herr dan pihak demonstran tampak menyadari komunikasi antarpihak tengah kurang baik dalam beberapa bulan terakhir.

Kalisa Wight Rock, seorang relawan medis dari Georgia mengatakan, adanya perpindahan fokus aksi protes itu membuat sejumlah pegiat merasa diabaikan setelah sempat menerima perhatian publik cukup luas tahun lalu.

“Banyak orang berpikir gerakan ini berakhir dan kami tidak lagi bertahan dalam kamp,” katanya, demikian Reuters melaporkan.

(Uu.KR-GNT)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Related Posts