Cuaca tak Menentu, Peternak Diminta Waspada Flu Burung

Penduduk memegang itik yang akan di vaksin flu burung oleh tim Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, di Kampung Lebakwangi, Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang, Jumat (24/2).

REPUBLIKA.CO.ID,  INDRAMAYU — Virus flu burung menjadi ancaman yang harus diwaspadai dalam kondisi cuaca yang tak menentu seperti sekarang. Karenanya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Indramayu mengirim surat imbauan kepada para camat yang ada di Kabupaten Indramayu.

“Saya kirim surat ke camat-camat, minta mereka untuk waspada,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Indramayu, Joko Pramono, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (23/3).

Joko mengatakan, dalam kondisi cuaca yang cepat berubah antara panas dan hujan, virus flu burung menjadi mudah muncul dan berkembang biak. Sedangkan di sisi lain, daya tahan tubuh unggas biasanya menurun sehingga mudah terserang berbagai penyakit, termasuk virus flu burung.

Menurut Joko, kewaspadaan terhadap ancaman virus flu burung di antaranya dalam bentuk peningkatan kebersihan kandang dan lingkungan unggas. Selain itu, para peternak dan masyarakat juga diminta untuk meningkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Joko mengakui, kasus flu burung pada unggas memang masih kerap terjadi. Sepanjang 2017, tercatat ada empat kasus flu burung pada unggas yang tersebar di empat desa. Adapun empat desa itu di antaranya Desa Jambe Kecamatan Kertasemaya dan Desa Plosokerep Kecamatan Terisi.

“Berdasarkan rapid test, hasilnya positif A1 (flu burung),” terang Joko.

Joko mengatakan, sudah melakukan penanganan terhadap unggas-unggas yang positif flu burung itu. Di antaranya, dengan penyemprotan desinfektan.

Selain kasus flu burung positif yang terjadi di empat desa, kematian unggas yang diduga flu burung juga terjadi di Desa Jumbleng, Kecamatan Losarang. Tercatat, ada lebih dari 1.000 ekor unggas jenis bebek yang mati mendadak.

Joko mengatakan, dokter hewan yang ada di instansinya sudah melakukan pemeriksaan. Hasilnya, bebek yang mati itu negatif flu burung.

“Unggas yang mati di Desa Jumbleng itu menderita ND (Newcastle Desease),” tegas Joko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 2 =