Buruknya Kualitas Bangunan Jadi Pembunuh Utama Saat Gempa

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno (IP) berkunjung ke rumah korban gempa di Solok. IP juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 29 juta kepada korban. Sedikitnya 70 rumah mengalami kerusakan akibat gempa 5,4 SR pada Sabtu (21/7) kemarin.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno (IP) berkunjung ke rumah korban gempa di Solok. IP juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 29 juta kepada korban. Sedikitnya 70 rumah mengalami kerusakan akibat gempa 5,4 SR pada Sabtu (21/7) kemarin.

 

 

 

 

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG – Struktur bangunan rumah yang buruk bisa menjadi mesin pembunuh saat gempa bumi terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok menyebutkan, sebanyak 70 rumah rusak akibat gempa bumi M 5,4 Skala Richter (SR) akibat gempa bumi pada Sabtu (21/7). Selain itu, tercatat juga 1 orang korban meninggal dunia dan 8 orang korban luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Selama kurang lebih satu pekan penelitian lapangan di daerah terdampak bencana, tim dari Badan Geologi mencoba menggali lebih dalam korelasi antara faktor geologi lokal, termasuk jenis batuan yang merambatkan gelombang gempa, dan faktor lain yang ikut menyumbang parah-tidaknya kerusakan bangunan.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kemementerian ESDM, Akhmad Solikhin, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah survei geologi dan geofisika, seperti pengukuran mikrotremor untuk merekam sifat fisik batuan. Secara sederhana, sifat fisik batuan menggambarkan apakah jenis batuan di suatu lokasi justru akan ‘memperparah’ kekuatan gempa atau tidak.

“Jika batuan lunak, guncangan akan lebih teramplifikasi. Sebaliknya bila batuan padat dan keras, gelombang gempa tidak begitu teramplifikasi. Sederhananya itu,” kata Akhmad, Senin (30/7).

Selain mengkaji jenis batuan yang ada, para peniliti juga mencoba melihat lebih detail kualitas bangunan yang ada di wilayah terdampak gempa bumi. Kedua parameter ini kemudian disandingkan dengan parameter lainnya, termasuk magnitudo gempa, jarak pusat gempa, dan sejarah gempa bumi setempat untuk melihat periode perulangan.

Hasil penelitian awal menyebutkan, kerusakan yang terjadi di Kabupaten Solok lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas bangunan, alih-alih karena faktor geologi lokal. Artinya, jumlah korban dan kerusakan bangunan tentu bisa ditekan meski angka magnitudo gempa buminya sebesar yang terjadi pada Sabtu (21/7) lalu.

Peneliti dari Badan Geologi, Cipta Athanasius, menjelaskan bahwa kesimpulan tersebut baru asumsi awal. Ia mengakui perlu ada kajian mendalam untuk mengukur seluruh parameter pendukung kerusakan akibat gempa bumi. Namun penelitian sementara memang menunjukkan bahwa secara geologi, gempa bumi yang terjadi di Solok sebetulnya tidak akan terlalu merusak bila kualitas rumah warga menenuhi standar.

Korelasi antara faktor geologi lokal dengan risiko kerusakan bangunan memang perlu penjelasan yang terlampau teknis. Namun sederhananya, Cipta menjelaskan, jenis batuan lunak dan tebal akan memberikan respons terharap gelombang dengan frekuensi rendah. Sebaliknya, jenis batuan dengan lapisan tipis akan mengimplifikasi gelombang dengan frekuensi tinggi. Di Solok sendiri, secara umum batuannya merupakan hasil sedimentasi gunung api yang cukup keras yang tidak mendorong amplifikasi kuat.

“Kalau di sini, Solok, saya tak yakin amplifikasi gelombang menjadi faktor dominan. Mungkin lebih ke kualitas bangunan. Kalau beberapa yang kami cek, ring balok tidak nyambung dan mengikat sepenuhnya, pas ada gempa ya lepas aja,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

77 − = 76