Wakil Presiden Jusuf Kalla meyakini kondisi ekonomi Turki yang memburuk tidak berimbas kepada ekonomi nasional, terutama ke neraca perdagangan. Saat ini Turki seperti berada di tengah badai. Kondisi finansialnya memburuk, sentimen investor goyah, pengelolaan ekonomi yang tak memadai, hingga adanya ancaman pengenaan tarif oleh AS.

Selain itu, Kalla juga mengungkapan, ekonomi Indonesia berbeda dengan Turki. Meski pertumbuhan ekonomi Turki lebih tinggi dari Indonesia, namun inflasi di Turki juga lebih tinggi dari Indonesia.

Menurut Kalla, inflasi di Turki lebih dari 15 persen, sementara inflasi di Indonesia hanya 3,5 persen. Hal itu mempengaruhi kemerosotan nilai uang. Dalam beberapa tahun terakhir, Turki adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat di dunia. Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi Turki melampaui China dan India pada 2017 lalu. Pada kuartal II 2018, pertumbuhan ekonomi Turki menembus 7,22 persen.

Namun, capaian tersebut didorong pula oleh utang luar negeri, menurut para analis. Utang tersebut di satu sisi mendorong konsumsi dan belanja. Akan tetapi, di sisi lain membuat Turki mengalami defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

77 − = 69