JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia ( MUI) Pusat KH Abdul Moqsith Ghozali menyebut, para pelaku teror dan bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu keliru dalam menafsirkan dan memahami Alquran serta Hadis. Tak hanya itu, mereka juga keliru memahami sejarah Nabi Muhammad SAW.

Moqsith menyebut pula, perang yang diterjemahkan para pelaku teror di Surabaya, tidak sesuai dengan syariat Islam. Sebab, Islam tidak membenarkan perempuan dan anak-anak terlibat dalam perang. Dalam sejarah, istri Nabi Muhammad maupun para sahabat-sahabatnya tidak pernah dilibatkan dalam perang.

Selain itu, kata Moqsith, tidak ada alasan untuk berperang seperti yang diklaim oleh para pelaku teror dan kelompok radikal saat ini. Ia menegaskan, apapun yang dilakukan oleh kelompok radikal bertentangan dengan syariat Islam. Tidak hanya itu, ia juga menyatakan, tindakan yang dilakukan teroris lemah dari sisi syariat Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 82 = 91